Cerita di Balik Mundurnya Akom Lawan Setnov di Munaslub

Hasil Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) partai Golkar menetapkan Setya Novanto sebagai nakhoda baru partai berlambang beringin. Namun terdapat cerita menarik di balik pemilihan ketum Golkar itu.
Ade Komarudin (kiri) dan Setya Novanto
Ade Komarudin (kiri) dan Setya Novanto. (Foto: Antara)
Salah satunya mengenai pengunduran diri Ade Komarudin (Akom) dalam putaran kedua melawan Setya Novanto (Setnov) sebagai ketum Golkar. Diketahui dalam putaran pertama, Setnov mendapat 277 suara dan Akom 173 suara.

Posisi suara Akom itu sebenarnya masih memungkinkan pemilihan untuk dilanjutkan ke putaran kedua. Sebab, aturan pemilihan memang memungkinkan calon ketua umum yang meraih dukungan di atas 30 persen dari 554 suara berhak maju ke putaran kedua.

Namun, Akom memilih untuk tidak melanjutkan pemilihan ke putaran kedua. Ketua DPR itu memilih legowo dengan hasil pemilihan demi kepentingan Golkar.



Langkah yang diambil Akom dinilai tepat untuk menjaga posisinya sebagai ketua DPR. Sebab bukan tidak mungkin posisi tersebut akan dialihkan kepada orang lain jika ngotot melanjutkan putaran kedua dan pada akhirnya harus kalah.

"Saya jelaskan kalkulasi politik dan kekuasan akan digunakan untuk perjuangan politik. Tidak maju putaran kedua akan lebih aman bagi dia (Akom) dengan perjuangan politiknya dia sebagai Ketua DPR. Saya kira bisa diterima akal sehat pertimbangan Akom untuk tidak masuk putaran kedua," kata Pengamat Politik dari Universitas Pelita Harapan, Emrus Sihombing saat dihubungi merdeka,com.

Akom sendiri tak menampik drama pengunduran dirinya dalam putaran kedua itu untuk mengamankan posisi dan koleganya di DPR. "Harapan saya dan banyak orang aman. Tapi itu kan tergantung partai hendakinya gimana. Tapi kan saat Munaslub saya mengalah. Bukan kalah loh yah. Yang jelas dealnya gini, saya fokus urus DPR, Setya Novanto urus DPP," kata Akom di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (20/5).

Akom menjelaskan bahwa kemunduran dirinya agar tak ikut pemilihan pada putaran kedua bukan tanpa sebab. Akom juga minta ada perjanjian agar tim suksesnya tidak dimusuhi.

"Sebelum saya umumkan mengalah, saya bilang tolong tim saya diakomodir untuk rekonsiliasi partai. Munas itu Munas rekonsiliasi. Saya sudah ngalah, jadi harus dijaga sama-sama. Setya Novanto sudah oke," ujar Akom.

Sedangkan dia sendiri, mengaku tak masalah jika tak masuk postur struktur DPP Golkar. Namun yang penting menurutnya ialah struktur yang baru mencerminkan rekonsiliasi, bukan perpecahan internal.

"Ditawarkan atau enggak di DPP, saya akan berikan dukungan untuk rekonsiliasi partai yang pernah retak. Jangan kita cederai," kata dia.

Sementara menurut Direktur eksekutif Charta Politika, Yunarto Wijaya sebenarnya banyak pemilik suara di munaslub yang ingin merapat ke Akom jika pemilihan berlanjut ke putaran dua. Namun, Yunarto melihat sikap kompromis Akom itu justru penting bagi Golkar untuk mencegah pertarungan yang lebih keras sehingga bisa muncul partai sempalan akibat kekecewaan karena kalah dalam pemilihan ketua umum.

"Harus diakui ini sisi negarawan Akom yang belajar dari 2009, ketika head to head memunculkan parpol baru dan terbukti menurunkan suara Golkar," kata Yunarto.

Yunarto juga mengatakan, hal yang perlu segera dilakukan Golkar di bawah komando Setnov adalah mempercepat rekonsiliasi setelah setahun lebih terbelit konflik internal. Menurutnya, semangat rekonsiliasi di munaslub harus tetap dipertahankan.

"Pasca-pertarungan luar biasa selama setahun lebih, berakhir klimaks ketika Akom mundur dan merelakan ambisinya. Minimal munas kali ini lebih steril dan jauh dari risiko perpecahan partai," ujar dia.
Cerita di Balik Mundurnya Akom Lawan Setnov di Munaslub Cerita di Balik Mundurnya Akom Lawan Setnov di Munaslub Reviewed by Amborsius Ambarita on 5/20/2016 06:33:00 PM Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.