Cerita Guru di Bantaeng Masuk Penjara Karena Cubit Anak Polisi

Nurmayani Salam, guru yang ditahan karena mencubit siswinya
Nurmayani Salam, guru yang ditahan karena mencubit siswinya. (Foto: viva.co.id)
Media sosial sempat diramaikan kisah guru di Bantaeng, Sulawesi Selatan, yang ditahan karena mencubit siswi yang merupakan anak seorang polisi. Anggota DPR Akbar Faizal turun tangan membantu guru biologi tersebut.

Akbar mengatakan, Bantaeng sebenarnya bukanlah daerah pemilihan (dapil) tempat dia terpilih. Namun dia menerima banyak aduan dari masyarakat, sehingga terketuk untuk membantu.

Politikus NasDem ini menuturkan, di Bantaeng, ada dua kasus guru yang ditahan badan karena menghukum muridnya. Pertama, kasus Nurmayani Salam. Di media sosial, Nurmayani ramai disebut sebagai guru SD, dan ditahan karena menjewer muridnya. Akbar meluruskan informasi itu. Nurmayani adalah guru SMP yang ditahan karena memukul T, muridnya yang merupakan anak seorang perwira polisi.



"Saya mencari tahu dengan menelepon Kapolres Bantaeng AKBP Kurniawan, Akpol angkatan '96 yang sebelumnya bertugas di Provinsi Sulbar. Dari Kapolres saya mendapatkan kisah lengkapnya," kata Akbar seperti diberitakan detikcom, Sabtu (21/5/2016).

Akbar menuturkan, peristiwa antara Guru Maya (Nurmayani -red), terjadi sekitar 10 bulan lalu saat T masih duduk di bangku kelas 2 SMPN 1 Bantaeng. Ayah T saat ini bertugas di Polres Selayar sebagai Kanit Intel. Kisahnya, T menolak ke sekolah pada suatu pagi atas alasan sakit. Belakangan, teman T bercerita ke orang tua T bahwa temannya itu sakit karena dipukul Guru Maya.

Orang tua T tak terima. Lalu melapor ke Polres Bantaeng. Hingga berbulan-bulan, kata Akbar, Polres Bantaeng berusaha tak memproses kasusnya, dan mengupayakan damai kedua belah pihak.

"Awalnya, orang tua T mau berdamai. Namun dalam proses negosiasi damai itu keluar beberapa kalimat dari Guru Maya yang membuat orang tua T naik pitam. Pintu islah tertutup rapat kembali, khususnya dari Ibunda T," tutur Akbar.

Polres Bantaeng akhirnya meneruskan kasus itu. Bukti-bukti, seperti visum dan keterangan saksi, sudah lengkap. Kasus itu pun dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri Bantaeng. Nah, di Kejaksaan inilah Guru Maya ditahan.

"Kapolres AKBP Kurniawan sekaligus membantah pemberitaan media termasuk di medsos bahwa Guru Maya ditahan di Polres, yang benar adalah di Kejari Bantaeng," ujar Akbar.

Kejari Bantaeng bergerak cepat dan melimpahkan kasusnya ke pengadilan. Akbar lalu berupaya melobi ayah T, Ipda Irwan, yang akhirnya sepakat berdamai dengan dua syarat. Syarat pertama Guru Maya mengakui perbuatannya. Kedua, Guru Maya harus minta maaf di media sosial. Ipda Irwan yakin ada pemukulan, karena memegang hasil visum yang menunjukkan ada pemukulan di bagian dada.

Akbar lalu menghubungi suami Guru Maya, Pak Haji Darmawan, untuk menyampaikan soal dua syarat dari Ipda Irwan. Darmawan bersedia minta maaf, tapi tak mau istrinya mengakui perbuatan memukul T di dada, karena merasa tak pernah melakukannya.

Akbar lalu menyampaikan ke Ipda Irwan, bahwa keluarga Guru Maya bersedia minta maaf, tapi tak mau mengakui pemukulan. Ipda Irwan keberatan. Ipda Irwan beralasan, jika Guru Maya tak mengakui perbuatannya, maka isu di media sosial, bahwa dia memenjarakan seorang guru karena mencubit anaknya, jadi seolah-olah benar.

"Hingga sekarang saya masih berkomunikasi dengan Kapolres dan Kajari Bantaeng untuk update. Saya meminta mereka terus mengupayakan damai. Sayangnya sampai kini belum bisa terlaksana," ujar mantan politikus Hanura ini.

Penjelasan Polisi

Bagaimana sebenarnya kasus itu menurut pihak kepolisian?

"Jadi tidak hanya mencubit, tapi ada kegitan yang mengarah kepada kekerasan," kata Kapolres Bantaeng AKBP Kurniawan Affandi, Sabtu (21/5/2016), seperti diberitakan Detikcom.

"Yang dicubit itu kan lebam kiri kanan, kemudian dipukul pipi kanan kirinya, kemudian dipukul dadanya," sambungnya.

Dijelaskannya, kasus itu terjadi di SMP I Bantaeng sekitar 14 agustus 2015 lalu. Tepatnya di sebelah musolla areal gedung sekolah. Kasus ini dilaporkan ke polisi sehari setelahnya.

"Waktu itu ada si korban inisial T sama V (rekannya) lagi main, lalu ada Ibu guru mau salat dhuha, akhirnya terganggu karena ribut, anak dua ini ribut," ujarnya.

Akhirnya, Ibu guru membawa anak itu ke ruanga BK. Namun berdasarkan pemeriksaan kepolisian, T mendapat kekerasan fisik.

"Orangtua T (Ipda Irwan) awalnya tidak tahu, tahunya pasca kejadian itu si anak ini tidak sekolah sehari, ngakunya demam. Ternyata dibesuk temannya, dari temannya ini tahu ada kejaian itu. Akhirnya lapor (polisi)," ujarnya.
Cerita Guru di Bantaeng Masuk Penjara Karena Cubit Anak Polisi Cerita Guru di Bantaeng Masuk Penjara Karena Cubit Anak Polisi Reviewed by Amborsius Ambarita on 5/21/2016 06:19:00 PM Rating: 5

2 komentar:

  1. Seep jelas.. Gak kaya Di fb

    BalasHapus
  2. Gak masuk akal penjelasannya. Gak mungkin hanya karna ribut seorang guru langsung membawa ke ruang bk

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.