Apa Dampak Inggris Keluar dari Uni Eropa?

David Cameron yang setuju Inggris bertahan di Uni Eropa
David Cameron yang setuju Inggris bertahan di Uni Eropa. (Foto: Christopher Furlong/Getty Images)
Hasil akhir voting referendum yang dilakukan masyarakat Britania Raya menunjukkan ingin keluar dari Uni Eropa. Apa dampak yang diderita oleh Uni Eropa?

Ada beberapa risiko yang akan dihadapi oleh 27 negara anggota Uni Eropa setelah Inggris dan kawan-kawan keluar, seperti dikutip dari Detikcom dan Reuters, Jumat (24/6/2016).



Anggaran dan Ekonomi
Para negara Uni Eropa harus mulai memikirkan bagaimana cara menutup setoran yang kosong setelah Inggris hengkang.

Kontribusi Inggris ke Uni Eropa di 2016 targetnya 19,4 miliar euro. Nah kekosongan ini yang harus bisa dipenuhi nanti.

Jerman, sebagai negara paling sehat di Uni Eropa, bisa jadi harus menyediakan dana lebih banyak untuk menutup kekurangan ini.

Perdagangan
Seluruh negara Uni Eropa ada surplus perdagangan 100 miliar euro dengan Inggris. Sementara Inggris punya 20 miliar euro lebih banyak dari ekpor Inggris di bidang jasa dan finansial.

Banyak ekonom memprediksi Brexit akan menghambat pertumbuhan ekonomi Inggris, salah satunya gara-gara melemahnya permintaan dan nilai tukar pound.

Ekspor barang dari negara-negara Uni Eropa ke Inggris pun dipastikan berkurang. Jumlah wisatawan di kedua belah pihak diperkirakan menyusut.

Investasi
Britania Raya merupakan tujuan investasi terbesar dunia dengan nilai rata-rata US$ 56 miliar tiap tahun. Uni Eropa menyumbang setengah jumlah itu.

Hasil studi juga menunjukkan pasar investasi Inggris hampir setara dengan negara-negara gabungan Uni Eropa.

Ada kemungkinan, investor lebih memilih berinvestasi langsung ke Inggris ketimbang harus memilih antara 27 negara Uni Eropa.

Migrasi Tenaga Kerja
Salah satu alasan pendukung Brexit meminta Inggris keluar dari Uni Eropa adalah membatasi jumlah pekerja asing yang masuk ke Inggris.

Jika hal ini sampai terjadi, maka para pekerja dari Eropa Timur tak lagi punya akses untuk dengan mudah bekerja di Inggris. Jumlah pekerja Eropa Timur di Inggris pada akhir 2015 mencapai 1,2 juta.

Paling banyak berasal dari Polandia, Rumania, dan Lithuana. Mereka ini yang paling merasakan dampaknya.

Sebaliknya, bisa jadi Jerman malah jadi sasaran pekerja migran setelah Inggris tak lagi mudah dimasuki.

Dampak Bagi Indonesia

Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan keluarnya Inggris dari keanggotaan Uni Eropa tidak akan berdampak secara langsung bagi Indonesia.

"Efeknya bagi kita sebenarnya tidak besar, tapi spirit proteksi itu akan terjadi di banyak negara," kata Kalla di Jakarta pada Jumat, 24 Juni, seperti diberitakan Rappler.

Hal senada diungkapkan oleh mantan Menteri Perdagangan RI, Mari Elka Pangestu. Ia mengatakan bahwa dampak langsung dan jangka pendek tidak terasa bagi Indonesia.

"Karena perdagangan kita dengan Inggris tidak terlalu banyak," kata Mari kepada Rappler, Jumat.

Namun menurutnya, dalam jangka pendek akan terjadi kerentanan di pasar uang.

“Mata uang poundsterling dan euro akan memimpin dalam aliran kerentanan pasar uang ini. Mata uang dolar AS akan menguat. Tentu dampaknya rupiah melemah,” ujar Mari.

Sementara itu, Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution mengatakan, meski Inggris keluar dari Uni Eropa, bukan berarti ekonomi negeri tersebut akan membaik, mengingat saat ini mayoritas perdagangan Inggris adalah dengan negara-negara Uni Eropa.

"Bila keluar dari Uni Eropa, Inggris pasti akan mulai mencari-cari penghambat perdagangan dengan Uni Eropa," kata Darmin.
Apa Dampak Inggris Keluar dari Uni Eropa? Apa Dampak Inggris Keluar dari Uni Eropa? Reviewed by Amborsius Ambarita on 6/24/2016 04:34:00 AM Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.