Beri Sinyal ke China, Jokowi Rapat di Atas Kapal Perang di Natuna

Jokowi di atas KRI Imam Bonjol 383 yang melaut di perairan Natuna
Jokowi di atas KRI Imam Bonjol 383 yang melaut di perairan Natuna. (Facebook/Jokowi)
Insiden penembakan kapal nelayan China oleh TNI AL karena kasus pencurian ikan pada 17 Juni yang lalu, menuai protes pemerintah China. 'Ketegangan' itu ditanggapi Jokowi dengan mengunjungi langsung perairan Natuna sekaligus rapat di atas kapal perang.



Rapat berlangsung satu jam di atas KRI Imam Bonjol 383 yang melaut di perairan Natuna, Kepulauan Riau. Hadir Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo, Menko Polhukam Luhut Pandjaitan, Menlu Retno Marsudi, Menteri KKP Susi Pudjiastuti, Seskab Pramono Anung.

Lalu Menteri ESDM Sudirman Said, Kepala Staf Angkatan Lau Laksamana Ade Supandi, Kepala Bappenas Sofyan Djalil, Kepala Badan Keamanan Laut (Bakamla) Arie Soedewo, serta Gubernur Kepulauan Riau Nurdin Basirun.

"Kita memberikan sinyal, Presiden juga kebetulan belum pernah kemari," ucap Luhut usai rapat di atas KRI Imam Bonjol yang berlayar di perairan Natuna, Kamis (23/6/2016).

Luhut mengatakan selain rapat, Jokowi juga ingin melihat langsung kondisi alat utama sistem persenjataan TNI yang bertugas di perairan Natuna, setidaknya KRI Imam Bonjol yang digunakan Jokowi dalam kunjungan ini.
Rapat berlangsung satu jam di atas kapal
Rapat berlangsung satu jam di atas kapal
"Mungkin (Jokowi) Presiden pertama juga yang datang kemari dan sekalian melihat alutsista kita di sini," ujar Luhut.

Lalu apakah kedatangan Jokowi ini ingin unjuk gigi ke negara lain soal kedaulatan NKRI di perairan Natuna? "Enggak ada gitu, kita tetap bersahabat dengan Tiongkok dengan negara lain," jawab Luhut.

Dalam kunjungannya, Presiden Jokowi sempat mengecek KRI Imam Bonjol yang pada beberapa waktu kemarin berhasil menangkap kapal nelayan China. Jokowi juga sempat mengisi buku tamu dengan pesan 'Jaga Kedaulatan NKRI'.

Selain itu, Presiden juga memberi arahan kepada menteri yang hadir untuk mengembangkan wilayah Natuna. Terutama perikanan, migas dan pertahanan.

"Pertama, Presiden meminta agar perkembangan ekonomi di wilayah Kepulaun Natuna dan sekitarnya dikembangkan terutama untuk dua hal, yaitu perikanan dan migas," ucap Menlu Retno Marsudi usai rapat.
Jokowi mengecek KRI Imam Bonjol
Jokowi mengecek KRI Imam Bonjol
Retno mengatakan berdasarkan paparan menteri ESDM Sudirman Said diketahui bahwa di perairan sekitar Natuna terdapat sekitar 16 blok untuk migas, di mana 5 blok sudah berproduksi dan 11 blok sedang bereksplorasi.

"Sementara itu Ibu Susi tadi menyampaikan mengenai pengembangan sektor perikanaan terutama pembangunan sentra kelautan dan perikanaan secara terpadu," ujar Retno.

Retno menegaskan bahwa sejak awal pemerintahan, Presiden selalu menekankan perkembangan wilayah terluar harus diperhatikan dan menjadikan prioritas. Lalu mengenai kedaulatan dan hak berdaulat harus terus terpelihara dan terjaga.

"Panglima TNI juga menyampaikan paparan mengenai rencana pengembangan pertahanan di wilayah Natuna dan sekitarnya," imbuhnya tak merinci rencana dimaksud.
Beri Sinyal ke China, Jokowi Rapat di Atas Kapal Perang di Natuna Beri Sinyal ke China, Jokowi Rapat di Atas Kapal Perang di Natuna Reviewed by Amborsius Ambarita on 6/23/2016 07:02:00 AM Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.