Dilarang BI, Ini Cara Toko Mengakalin Layanan Jasa Gestun

Ilustrasi layanan gesek tunai
Ilustrasi layanan gesek tunai. (Istimewa)
Untuk melindungi konsumen di sektor sistem pembayaran, Bank Indonesia (BI) mendorong pemberantasan transaksi Gesek Tunai (Gestun) kartu kredit. Pelarangan tersebut bertujuan agar industri kartu kredit dapat tumbuh secara sehat dan aman, sekaligus dalam rangka perlindungan konsumen jasa sistem pembayaran.



Sesuai dengan PBI tersebut, pihak acquirer wajib menghentikan kerja sama dengan merchant yang melakukan tindakan yang dapat merugikan bank penerbit kartu kredit.

Praktik gestun hingga saat ini masih berlangsung walaupun jumlahnya tidak sebanyak dulu. Seperti diberitakan detikFinance, masih ada toko handphone di kawasan pusat perbelanjaan ITC Cempaka Mas, Jakarta Pusat yang bersedia melakukan transaksi gesek tunai ini.

Gestun ini masih lebih murah jika dibandingkan dengan tarik tunai di ATM. Dengan gestun, setiap transaksi hanya dikenakan bunga 3% tanpa dikenakan biaya administrasi.

"Bunga 3% saja tanpa biaya administrasi," kata salah seorang pedagang handphone yang enggan menyebut namanya saat ditemui di lokasi, Minggu (19/6/2016).

Sedangkan apabila menarik tunai di ATM, nasabah dikenakan biaya 6% untuk biaya administrasi dan 2,95% bunga berjalan selama 2 bulan dan tagihan harus dibayar full payment selama 2 bulan berturut-turut.

"Kalau transaksi tarik tunai di ATM nanti kena bunga berjalan 2 bulan berturut-turut 2,95%, pada saat penarikan di ATM kena biaya 6% (jenis kartu platinum) dari tarik tunai, dengan minimal jumlah Rp 100.000. Nanti, pada saat tagihan bulan depan tagihan harus dibayar full payment sudah plus bunganya, bukan pembayaran minimumnya," ungkap satu customer service BNI dihubungi terpisah.

Setelah itu, nasabah tidak diperkenankan untuk melakukan tarik tunai kembali untuk mencegah nasabah terkena bunga berjalan.

Agar penarikan uang tunai ini layaknya bertransaksi 'normal', sebuah toko handphone 'mengakali'-nya dengan memberikan struk belanja berupa pembelian handphone kepada nasabah setelah melakukan transaksi gesek tunai.

"Aman (transaksi gestun), kalau masih ratusan ribu sampai jutaan masih aman, nanti ditulisnya beli handphone saja," ungkap salah satu pedagang handphone yang enggan menyebut namanya.

Dalam sekali transaksi gestun di merchant, nasabah dikenakan bunga 3% untuk kartu kredit BNI. Toko ini mampu menyediakan uang hingga Rp 20 juta.

"Transaksi minimal nggak ada, terserah maunya berapa, kalau maksimum paling kita ada Rp 20 jutaan, lagian kalau di atas itu nanti malah dicurigain," kata pedagang tersebut.

Transaksi gestun di merchant juga terbilang cukup mudah, nasabah hanya diminta menunjukkan KTP dan kartu kredit. Apabila nama yang tertera pada KTP dan kartu kredit sama, merchant tersebut bersedia melayani transaksi, namun bila berbeda mereka tidak akan melayani transaksi.

"Syaratnya cuma KTP saja sama kartu kreditnya, kalau sama mau kita layani, kalau beda kita nggak mau, misalkan ibu-ibu yang pakai kartu kredit suaminya, itu nggak bisa," tutur pedagang tersebut.

Nantinya, uang yang ditarik tersebut bisa diberikan secara langsung atau pun ditransfer. Penarikan uang tunai melalui gestun ini hanya dibebankan bunga saja, tidak ada biaya administrasi seperti tarik tunai kartu kredit lewat mesin ATM.
Dilarang BI, Ini Cara Toko Mengakalin Layanan Jasa Gestun Dilarang BI, Ini Cara Toko Mengakalin Layanan Jasa Gestun Reviewed by Amborsius Ambarita on 6/19/2016 10:58:00 AM Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.