Jika Pilih Parpol daripada Independen, Konsistensi Politik Ahok Dipertanyakan

Ahok berbincang dengan Ketum Partai Golkar Setya Novanto
Ahok berbincang dengan Ketum Partai Golkar Setya Novanto. (Liputan6.com)
Ahok pernah menyatakan akan maju lewat jalur independen, namun kini berbelok arah ke parpol. Ahok akhirnya hampir pasti memilih 'mobil mewah' ketimbang 'bus umum'.



'Mobil mewah' pernah diibaratkan Ahok sebagai parpol, sementara 'bus umum' adalah maju lewat jalur independen bersama warga DKI yang menyerahkan KTP dukungan.

"Kenapa kamu enggak mau pakai parpol? Nah, saya punya hubungan baik dengan parpol. Ketemu Teman Ahok saya tanya, yang benar saja ngumpulin KTP? Ibarat udah dapat Mercedes-Benz, tinggal duduk, kamu ngajak naik bus, turun-naik terminal, enggak jelas pula busnya. Mereka jawab, kalau naik mobil mewah Bapak naik sendirian, kalau naik bus naiknya ramai-ramai," kata Ahok di hadapan pendukungnya pada acara Teman Ahok Fair di Gudang Sarinah Ecosystem, Pancoran, Jakarta Selatan, Minggu (29/5/2016), seperti diberitakan Detikcom.

Ahok juga pernah bicara hal serupa bulan Maret silam. Kala itu Ahok tengah mendapatkan godaan diusung PDIP di Pilgub DKI. Ahok pun menawarkan Teman Ahok menjadi relawan PDIP.

"PDIP kan mau usung, dia partai besar ada 28 kursi tapi PDIP juga ngerti Teman Ahok punya idealisme yang baik. Saya tawarkan alangkah baiknya Teman Ahok jadi relawan di PDIP. Tapi Teman Ahok kan enggak yakin sama PDIP," kata Ahok di Balai Kota DKI, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Senin (7/3/2016).

Mengapa Ahok menawarkan Teman Ahok jadi relawan PDIP? Ternyata Ahok memang sudah sreg dan ingin duet dengan Djarot Saiful Hidayat di Pilgub mendatang.

"Ibarat dikasih mobil bagus ke kota, ada sopir lengkap, tapi kalian ajak saya naik bus. PDIP kan ibarat mobil itu, lengkap semua. Mereka jawab naik bus kan ramai-ramai, kalau mobil mewah kan kami enggak ikut. Mereka juga sepakat ya sudah saya bilang ya sudahlah," ujar Ahok yang akhirnya tetap bersama relawan menempuh jalur independen.

Meski begitu, Ahok kemudian menegaskan dia memilih jalur independen, memilih bus kota seperti yang ditawarkan oleh Teman Ahok. Namun ia sudah memberi tahu risikonya.

"Ya sudah ini risiko, bisa-bisa kalian (Teman Ahok) kalau tak terkumpul lalu partai marah tak calonkan saya berarti saya enggak bisa nyalon lagi. Saya akan selesai Oktober 2017," kata Ahok.

Karena pilihan independen itu, PDIP pun menjauh. Sementara Teman Ahok terus mengumpulkan KTP dukungan Ahok-Heru Budi Hartono sampai tembus satu juta. Namun setelah tembus satu juta, Ahok malah menyatakan siap diusung parpol. Teman Ahok pun tak lagi memaksa Ahok naik 'bus kota' lagi karena sudah ada kepastian dari tiga parpol yang siap mengusung Ahok yakni Golkar, NasDem, dan Hanura.

"Kita mah siap saja selama partai bisa yakinkan Teman Ahok bahwa pasti calonkan saya, kita bisa ikut parpol," ucap Ahok di Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Senin (20/6/2016).

Konsistensi politik Ahok kini dipertanyakan.

"Itu mah orang mau tanya, terserah," tanggap Ahok.

Kini Ahok hendak bertanya ke Teman Ahok, apakah relawan pendukungnya itu tetap ingin konsisten di jalur independen atau ingin pindah ke jalur partai politik. Rencananya, Ahok, parpol-parpol pendukung Ahok, dan Teman Ahok akan mengadakan pertemuan sebelum lebaran.

"Makanya saya mau tanya sama Teman Ahok, pilih yang mana," kata Ahok.

Pengamat politik melihat inkonsistensi Ahok sudah terlihat belakangan ini. Godaan partai politik memang besar. Namun dikhawatirkan, bila Ahok menempuh jalur parpol, maka semangat kerelawanan yang sudah dirintis Teman Ahok akan pupus begitu saja.

"Ini kan pencapaian satu juta KTP ini menunjukkan sebagian besar masyarakat melihat ada alternatif lain model pencalonan lewat jalur independen. Dan itu menunjukkan bahwa di perkotaan semangat kerelawanan itu mulai tumbuh. Dengan majunya Ahok lewat partai itu esensinya akan hilang. Itu akan memupus semangat kerelawanan itu dan akan jadi preseden buruk ke depannya," kata pengamat politik Arya Fernandes kepada wartawan.

Mantan kolega Ahok di Gerindra, Sufmi Dasco Ahmad pun mengingatkan bahwa bagi seorang pemimpin, konsistensi adalah hal yang penting.

"Pemimpin harus konsisten itu betul, dan biar rakyat yang menilai soal konsistensi itu," kata Dasco saat berbincang.
Jika Pilih Parpol daripada Independen, Konsistensi Politik Ahok Dipertanyakan Jika Pilih Parpol daripada Independen, Konsistensi Politik Ahok Dipertanyakan Reviewed by Amborsius Ambarita on 6/24/2016 04:19:00 AM Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.