Kebijakan Impor Daging Sapi Beku Tuai Pro dan Kontra

Ilustrasi daging beku impor dari Australia
Ilustrasi daging beku impor dari Australia. (Istimewa)
Pemerintah membuka impor 27.000 ton daging sapi beku dari Australia untuk menurunkan harga dari Rp 120.000/kg menjadi Rp 80.000/kg. Daging tersebut sudah masuk ke sejumlah pasar tradisional di DKI Jakarta, salah satunya di Pasar Jatinegara, Jakarta Timur. Daging beku itu dijual seharga Rp 70.000-Rp 90.000/kilogram (kg).

Namun hal ini menimbulkan pro dan kontra dari sisi perusahaan penggemukan sapi atau feedloter dan peternak lokal. Beragam alasan dilontarkan, namun mereka sepakat jika kebutuhan daging sapi memang tidak seimbang dengan pasokan yang tersedia sehingga harga daging sapi mudah bergejolak.

Johny Liano, Direktur Eksekutif Gabungan Pelaku Usaha Peternakan Sapi Potong Indonesia (Gapuspindo) misalnya mendukung langkah pemerintah mendistribusikan daging sapi beku ke pasar becek, karena bakal mampu menstabilkan harga yang dianggap terlalu tinggi saat ini. "Dengan kebijakan ini, stok daging sapi jadi banyak di pasar, sehingga pasokan tersedia mengikuti permintaan dan akhirnya harga stabil," ujarnya akhir pekan lalu, seperti dikutip dari KONTAN.



Meski peluang mengimpor untuk pasar tradisional kini terbuka lebar, namun Johny mengaku para feedloter tak berminat untuk berpartisipasi dalam menyediakan daging sapi untuk keperluan puasa dan lebaran tahun ini. "Kami masih punya stok 100.000 ekor untuk kebutuhan selama puasa dan lebaran. Ini yang akan kami gelontorkan ke pasar," ujar Johny.

Asal tahu saja, dalam Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 37 Tahun 2016 Tentang Ketentuan Ekspor dan Impor Hewan dan Produk Hewan disebutkan bahwa salah satu yang bisa diimpor oleh importir adalah sapi dalam keadaan hidup dan siap dipotong untuk dagingnya dijual ke pasar.

Namun, Teguh Boediyana, Ketua Umum Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI) justru mempertanyakan kebijakan baru yang diambil pemerintah ini. Menurutnya, membuka daging sapi impor ke pasar tradisional menunjukkan sikap pemerintah yang tidak konsisten soal swasembada sapi. "Setelah ini, pasti daging sapi impor akan membanjiri pasar," keluhnya.

Namun, Teguh mengaku maklum karena saat ini pasokan dan permintaan daging memang tidak seimbang, sehingga harga daging terus menanjak seperti yang terjadi saat ini.

Lantas, apakah gencarnya impor daging beku akan mempengaruhi harga daging sapi segar dari peternak?

Menurut Sekjen Perhimpunan Peternakan Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI), Rochadi Tawaf, masuknya daging beku impor akan membuat harga daging turun. Namun, turunnya tak akan signifikan.

"Kalau sekarang Rp 120.000/kilogram (kg) misalnya, paling turun jadi Rp 115.000-Rp 110.000/ kg, nggak signifikan," ujar Rochadi, Senin (6/6/2016), seperti diberitakan DetikFinance.

Rochadi menjelaskan, pengaruhnya tak signifikan karena permintaan daging segar tetap tinggi. Sementara, daging beku impor tak terlalu banyak peminatnya.

"Gelontoran daging ini dalam supply demand belum mampu menggoyang sejumlah permintaan yang meningkat. Sekarang gini. permintaannya daging segar, datangnya daging beku. Jadi, demand itu tidak bisa dipenuhi kan," tutur Rochadi.
Kebijakan Impor Daging Sapi Beku Tuai Pro dan Kontra Kebijakan Impor Daging Sapi Beku Tuai Pro dan Kontra Reviewed by Amborsius Ambarita on 6/06/2016 10:22:00 PM Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.