Luhut Bantah Kapal TNI AL Tembak Nelayan China di Natuna

Menko Polhukam Luhut Panjaitan saat jumpa pers
Menko Polhukam Luhut Panjaitan saat jumpa pers. (Foto: Liputan6.com)
Kapal ikan berbendera Cina ditangkap KRI Imam Bonjol-383 yang tengah beroperasi patroli hingga ZEE di perairan Natuna pada 17 Juni 2016. KRI Imam Bonjol-383 jenis Parchim sebelumya menerima laporan dari intai udara maritim mengenai adanya 12 kapal ikan asing yang melakukan aksi pencurian ikan.

Saat didekati, kapal ikan asing tersebut melakukan manuver dan melarikan diri. KRI Imam Bonjol pun mengejarnya dan memberikan peringatan melalui tembakan, namun diabaikan.

Setelah beberapa kali dilakukan tembakan peringatan, satu kapal dari 12 kapal ikan asing dapat dihentikan. Setelah berhasil dihentikan dan diperiksa, diketahui kapal asing tersebut diawaki 6 pria dan 1 wanita yang diduga berkewarganegaraan Cina.



Jubir Kemlu Cina Hua Chunying dalam statemennya hari Minggu (19/6) menyatakan kapal perang Indonesia telah merusak satu kapal ikan Cina dalam insiden di dekat Kepulauan Natuna dan menahan satu kapal lainnya dengan 7 orang di dalamnya. Cina menyebut ada 1 nelayan yang terluka. Penjaga pantai Cina kemudian menyelamatkan nelayan yang terluka itu dan membawanya ke Provinsi Hainan di Cina bagian selatan untuk dirawat. Pemerintah Cina telah mengeluarkan protes resmi atas insiden itu dan mendesak Indonesia tidak melakukan tindakan lebih yang bisa memperumit keadaan.

Lalu apa tanggapan pemerintah Indonesia?

Menko Polhukam Luhut Binsar Pandjaitan menemui Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Istana Kepresidenan. Dia membicarakan insiden penangkapan kapal nelayan Cina pencuri ikan di perairan Natuna.

Luhut membantah klaim pemerintah Cina bahwa ada nelayan Cina yang tertembak oleh pihak TNI AL dalam insiden itu. Menurutnya, apa yang dilakukan aparat Indonesia saat itu sudah sesuai aturan.

"Ndak betul (penembakan). Semua sesuai aturan," kata Luhut di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Senin (20/6/2016), seperti diberitakan Detikcom.

Luhut mengatakan, pemerintah sedang mencari solusi untuk penyelesaian masalah penembakan tersebut.

"Kita mau lanjutkan bicara dulu dengan para ahli hukum laut internasional, bagaimana yang paling elok penyelesaiannya," ujar Luhut.

Luhut juga mengatakan, tidak ada alasan bagi Indonesia untuk ada masalah dengan pihak Cina. "Karena Indonesia pada posisi yang sebenarnya, aturannya sudah jelas ZEE-nya. Semua jelas," kata Luhut.

Lalu apa tanggapan Presiden Jokowi?

"Kita masih diskusi," jawab Luhut.

Luhut juga menyampaikan langkah Indonesia menghadapi Cina di Laut China Selatan. Beberapa kali kapal Cina masuk wilayah RI sehingga diambil tindakan tegas.

"Presiden setuju. Kami akan membuat tim pakar kita berbicara hukum internasional bagaimana enaknya hubungan kita dengan Tiongkok ini tetap baik tapi kedaulatan kita tidak terganggu," jelas Luhut.

Kembali soal wilayah kedaulatan RI, pemerintah menggandeng ahli hukum internasional Hasyim Djalal.

"Pak Hasyim Djalal pakar hukumnya jadi leader biar nanti kita tidak buat kesalahan seperti Sipadan dan Ligitan. Kemudian setelah digambarkan Prof Hasyim Djalal ada pembenaran-pembenaran yang memperkuat posisi kita," tutur dia.

Luhut juga menegaskan hubungan RI dan Cina tak terganggu karena urusan di Laut Cina Selatan.

"Yang penting kita damai-damai saja," tegasnya.

Menlu RI Retno Marsudi juga sudah menegaskan hal yang sama. Menurutnya tak ada warga negara Cina yang terluka akibat ditembaki kapal TNI AL dalam insiden yang terjadi Jumat 17 Juni 2016 itu. Aparat Indonesia hanya menjalankan tugas menindak para nelayan Cina yang melakukan pencurian ikan.

"Pada tanggal 17 Juni pukul 04.24, kapal TNI AL memergoki 10-12 kapal ikan asing di perairan Natuna di ZEE Indonesia. Beberapa kapal terlihat melempar jaring dan diduga melakukakan IUU fishing," ucap Retno dalam rapat kerja Komisi I di Gedung DPR, Senayan, Jakarta Pusat, Senin (20/6/2016).

Dijelaskan Retno, kapal asing itu lalu berpencar melarikan diri dan 4 KRI melakukan pengejaran terpisah. Kapal TNI AL memerintahkan agar kapal berhenti dan mematikan mesin.

"Permintaan diabaikan dan kapal asing menambah kecepatan. Beberapa jam kemudian, tembakan peringatan dilakukan sesuai prosedur. Ini bagian dari langkah penegakan hukum dari hak berdaulat kita di wilayah ZEE," paparnya.
Luhut Bantah Kapal TNI AL Tembak Nelayan China di Natuna Luhut Bantah Kapal TNI AL Tembak Nelayan China di Natuna Reviewed by Amborsius Ambarita on 6/20/2016 09:05:00 AM Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.