Dinilai Lebih Jahat dari Terorisme, Pelaku Vaksin Palsu Harus Dihukum Berat

RS Permata Bekasi yang menyediakan vaksin palsu
RS Permata Bekasi yang menyediakan vaksin palsu. (Detikcom)
Ada produsen, distributor, dan tenaga kesehatan di Rumah Sakit serta Klinik menjadi tersangka peredaran vaksin palsu. Para pelaku kejahatan ini harus dihukum maksimal karena kejahatannya dinilai lebih berat dari kasus terorisme.

"Itu harus ada hukuman keras, karena itu lebih jahat dari terorisme sebenarnya. Karena itu kan merenggut masa depan anak yang kena vaksin palsu," kata Ketum PP Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar di gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (15/7/2016), seperti diberitakan Detikcom.



Kasus ini, sambung Dahnil, adalah sebuah kritikan bagi sistem pengawasan makanan dan obat di Indonesia.

"Selama ini perlindungan terhadap konsumen itu rendah sekali. Konsumen kita ini memang tidak dilindungi, ini salah satu fakta. Artinya penegakan hukum ada masalah di situ," papar Dahnil.

Dahnil menilai peredaran vaksin palsu adalah satu kejahatan yang bergerak dalam jaringan. Pemerintah, kata dia, harus lebih memperketat pengawasan agar kejadian serupa tidak terus berulang.

"Di sisi lain, ini juga bukti pemerintah harus memperbaiki pola pengawasan terhadap makanan dan obat. Vaksin ini bukan kasus tunggal, bukan kali ini. Saya fikir, ada potensi rente di situ. Sekarang memang komitmen terbesar kita itu ada pada komitmen penegakan hukum," urai Dahnil.

"Kalau dia berkaitan dengan korporasi besar dia jadi lemah, kalau ini kan sudah menjadi jejaring dan sudah jadi perhatian publik ini harus dapat hukuman yang besar. Ini pasti saling terkoneksi satu dengan yang lain misalnya rumah sakit, berita tentang mafia obat itu kan cerita lama sebenarnya sudah jadi rahasia umum," imbuhnya.

Lalu apa sanksi yang pantas untuk rumah sakit?

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia akan membahas sanksi terhadap rumah sakit-rumah sakit yang menerima vaksin palsu, berikut pemasok dan pengedarnya. Menteri Kesehatan Nila Moeloek mengancam akan menjatuhkan sanksi berat jika seluruh manajemen RS terbukti terlibat pengadaan vaksin palsu.

Sanksi penutupan operasional RS akan dipertimbangkan berdasarkan hasil penyidikan yang masih berlangsung. “Kami tidak bisa langsung mengatakan tutup, prosesnya harus berjenjang.”

Sementara proses di jalur hukum juga tetap berlangsung dengan saksi pidana menanti mereka yang terlibat.

Baca juga: Apa Pertanggungjawaban RS yang Masuk Daftar Pengguna Vaksin Palsu?

Secara terpisah, Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi meminta pemerintah bersikap tegas dan memberikan sanksi paling berat kepada semua pihak yang terlibat, mulai pegawai RS hingga pegawai negeri atau honorer di lingkungan terkait.

Manajemen RS yang terbukti terlibat, kata Tulus, juga harus diproses pidana dan perdata, dengan konsekuensi terberat berupa penutupan rumah sakit tersebut.
Dinilai Lebih Jahat dari Terorisme, Pelaku Vaksin Palsu Harus Dihukum Berat Dinilai Lebih Jahat dari Terorisme, Pelaku Vaksin Palsu Harus Dihukum Berat Reviewed by Amborsius Ambarita on 7/15/2016 04:27:00 AM Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.