Keluarga Melawan, Sebut dr Indra Sugiarno Tumbal Kasus Vaksin Palsu

dr Indra Sugiarno, tersangka kasus vaksin palsu
dr Indra Sugiarno, tersangka kasus vaksin palsu. (Foto: Detikcom)
Setelah ditetapkan Bareskrim Polri jadi--sejauh ini satu dari tiga dokter--tersangka kasus vaksin palsu, Keluarga besar dr Indra Sugiarno Sp.A dari Rumah Sakit Harapan Bunda, Jakarta Timur pun angkat bicara.

Istri dr Indra bernama Dini berkata, keluarga besarnya perlu memberi keterangan. Mereka merasa dr Indra telah dijadikan tumbal dalam kasus vaksin palsu di RS Harapan Bunda ini.

"Saya tadinya mau diam saja, saya pikir ikuti prosesnya saja dulu. Tapi saya tidak tahan suami saya dikriminalisasi dan tampak ada upaya melokalisir supaya ini jadi kejahatan dr Indra seorang diri. Itu jelas ada," ujar Dini via telepon, Sabtu (16/7/2016) tengah malam, seperti diberitakan Detikcom, Minggu.



Dalam pertanyaan keluarga besar dr Indra, mereka membenarkan dr Indra menggunakan vaksin palsu yang didapat dari sales bernama Syahrul. Namun dr Indra dalam pengakuannya telah bersumpah bahwa dia tidak mengetahui sama sekali vaksin itu palsu.

Mereka juga menyatakan, menurut keterangan dr Indra langsung, tak hanya dirinya yang menggunakan vaksin palsu itu. dr Indra bahkan baru ikut membeli setelah melihat dokter-dokter anak lainnya di RS Harapan Bunda membeli vaksin palsu itu.

"RS Harapan Bunda lah yang menyerahkan Dr Indra seorang diri kepada Bareskrim sedangkan dokter-dokter lain yang menggunakan vaksin dari sumber yang sama dibiarkan bebas. Lalu bagaimana pertanggungjawaban RS Harapan Bunda yang tidak memiliki regulasi yang jelas dalam mengatur penggunaan vaksin yang digunakan oleh dokter-dokter anak di sana," terang pihak keluarga.

"Kini RS Harapan Bunda, Kemenkes, BPOM, dan masyakarat seolah hanya melimpahkan semua kesalahan kepada Dr Indra seorang diri. Rumah sakit yang seharusnya memberikan perlindungan dan pendampingan kepada Dr Indra pada saat diperiksa di Bareskrim menjadikan Dr Indra seolah sebagai tumbal atas kelalaian pengawasan dan regulasi yang menjadi tanggung jawab rumah sakit dan Pemerintah. Surat edaran internal keharusan menggunakan vaksin dari RS baru dikeluarkan RS Harapan Bunda pada tanggal 24 Juni 2016," tambah pernyataan tersebut.

Dini menceritakan kondisi keuangan keluarganya yang sudah cukup baik. Tak perlu lagi mencari dana tambahan lewat vaksin palsu.

"Pasiennya dia itu antara 50-100 per hari, ini saya blak-blakan. Potongan rumah sakit sekitar Rp 60 ribu untuk dokter 1 pasien. Rp 60 ribu kali 100, Rp 6 jt sehari," kata Dini.

Sementara dari hasil vaksin, disebut dr Indra menerima Rp 6 juta per bulan. Dini menegaskan itu tidak benar. Uang yang diperoleh dari hasil penjualan vaksin dipegang oleh suster dan dibagikan pada petugas kebersihan.

"Karena ya buat kami buat apa 6 juta, buat apa? Dari kunjungan pasien aja per hari Rp 150 ribu per bayi. Belum dari operasi sesar tiap hari pasti ada. Berapa per hari bisa 2 sampai 3. Kebutuhan dia gak banyak. Anak kita 3 orang udah jadi semua, udah mapan. Tinggal dua, 1 udah kuliah 1 SD," paparnya.

dr Indra juga tinggal di pinggiran kota. Sehingga biaya hidupnya tidak terlalu tinggi. "Buat apa kita berbisnis seperti itu?" tanyanya.

Berikut pernyataan lengkap keluarga:

Assalamualaikum wr wb,

Dear pasien-pasien Dr Indra, atas nama keluarga, saya menyampaikan rasa prihatin dan dukacita yang mendalam atas apa yang terjadi terhadap kita semua. Demi Allah saya yang menulis ini bersumpah bahwa Dr Indra tidak pernah tahu bahwa vaksin yang digunakannya adalah palsu. Beliau juga menyuntikannya untuk anak dan cucunya.

Tidak pernah ada niat sedikit pun untuk berbisnis dan mengambil keuntungan dari bisnis tersebut untuk menafkahi keluarganya. Harga diri, profesi, anak kandung dan cucu kandung Dr Indra serta pasien-pasien yang divaksin dari sumber yang sama adalah korban.

Segalanya bermula dari kelangkaan vaksin pada awal 2016, di mana sebagai dokter beliau ingin memberikan yang terbaik yaitu menyediakan dan melakukan imunisasi kepada pasien-pasiennya, termasuk cucu dan anaknya.

Adalah seorang sales bernama S yang menjual vaksin kepada hampir semua dokter di RS Harapan Bunda. Dr Indra baru menggunakan vaksin yang dijual oleh S pada periode Februari sampai Juni 2016. Setelah sebelumnya mengetahui dokter-dokter anak lainnya di RS Harapan Bunda telah menggunakan vaksin dari saudara S tersebut untuk imunisasi bagi pasien-pasien mereka. Untuk semakin meyakinkan dirinya Dr Indra meminta S bersumpah atas nama Allah bahwa vaksin yang dijualnya adalah asli dan S pun bersumpah bahkan di hadapan seorang suster bernama Eka.

S diketahui sebagai sales sebuah perusahaan obat besar. Dengan latar belakang pekerjaan Syahrul tersebut dan penggunaan vaksin yang dijual S kepada dokter-dokter anak lain di RS Harapan Bunda sebelumnya, maka Dr Indra yakin bahwa vaksin tersebut asli.

Lalu pertanyaannya, mengapa opini publik sedemikian rupa seolah Dr Indra hanyalah dokter satu-satunya yang menggunakan vaksin palsu di RS Harapan Bunda dan menjadikan dia sebagai public enemy. Padahal kalau kita fikir dalam-dalam, Dr Indra adalah korban, anak dan cucunya juga korban, dan pasien-pasien yang sangat dicintainya juga korban.

RS Harapan Bunda lah yang menyerahkan Dr Indra seorang diri kepada Bareskrim sedangkan dokter-dokter lain yang menggunakan vaksin dari sumber yang sama dibiarkan bebas. Lalu bagaimana pertanggungjawaban RS Harapan Bunda yang tidak memiliki regulasi yang jelas dalam mengatur penggunaan vaksin yang digunakan oleh dokter-dokter anak di sana.

Kini RS Harapan Bunda, Kemenkes, BPOM, dan masyakarat seolah hanya melimpahkan semua kesalahan kepada Dr Indra seorang diri. Rumah sakit yang seharusnya memberikan perlindungan dan pendampingan kepada Dr Indra pada saat diperiksa di Bareskrim menjadikan Dr Indra seolah sebagai tumbal atas kelalaian pengawasan dan regulasi yang menjadi tanggung jawab rumah sakit dan Pemerintah. Surat edaran internal keharusan menggunakan vaksin dari RS baru dikeluarkan RS Harapan Bunda pada tanggal 24 Juni 2016.

Terkait selisih harga sebesar total Rp 6 juta yang diperoleh dari penjualanan vaksin, 1 rupiah pun tidak pernah digunakan untuk menafkahi keluarganya. Selisih harga yang tidak seberapa besar tersebut diatur oleh suster dan dinikmati secara bersama-sama oleh suster dan cleaning service yang berjumlah 52 orang. Jadi tuduhan bahwa Dr Indra berbisnis dari vaksin palsu tersebut sungguh suatu fitnah yang keji. Sampai detik terakhir penangkapan oleh Bareskrim, beliau menafkahi keluarganya dari jasa praktek profesi dokter.

Untuk diketahui rata-rata pasien Dr Indra per hari dari 2 rumah sakit adalah sebanyak 50-100 orang. Belum lagi dari jasa visit rawat inap dan pendampingan operasi caesar yang rutin ada setiap harinya. Jumlah dari fee profesi tersebut sudah lebih dari cukup, mengingat saat ini Dr Indra hanya menanggung 2 anak, karena 3 anak terdahulunya sudah memiliki penghasilan sendiri dan mapan.

Mestinya yang harus sama-sama kita cermati adalah pengelolaan manajemen limbah RS Harapan Bunda yang memungkinkan Suster Irna menjadi pengepul limbah botol vaksin yang seharusnya dimusnahkan oleh RS Harapan Bunda. Karena dari limbah botol vaksin tersebutlah tercipta vaksin palsu yang melukai dan mengancam kita semua. Jadi isu tentang kelangkaan vaksin, manajemen limbah yang kacau, dan pengawasan peredaran obat yang abai, dilokalisir kejahatannya hanya kepada Dr Indra seorang diri. Padahal merekalah yang sesungguhnya bertanggung jawab atas ini semua. Mereka berlindung dari keluguan Dr Indra.

Waktu diawal isu vaksin mencuat, Dr Indra sudah pernah menyampaikan solusi kepada salah satu petinggi IDAI. Untuk dilakukan penelitian 30 by seven. Dimana tujuannya adalah menemukan berapa presentase jumlah bayi yang imun. Bila tercapai 70 persen maka vaksinasi ulang tidak perlu dilakukan. Jika ini dilakukan, seharusnya kegaduhan sosial ini tidak akan terjadi karena jelas apa yang bisa diperbuat baik oleh pemerintah maupun masyarakat. Sayangnya media dan masyarakat sudah terkooptasi untuk menyudutkan Dr Indra dan seolah-olah kejahatan telah diperbuatnya. RS Harapan Bunda, Kemenkes, dan BPOM telah berhasil secara jitu melokalisir isu nasional yang notabene menjadi tanggung jawab mereka, melimpahkan segala keteledoran yang mereka perbuat kepada Dr Indra. Bahkan komunitas dibentuk untuk menyudutkan dan menghakimi Dr Indra sebagai penjahat. Pemerintah yang seharusnya mampu memberikan rasa aman dan tentram kepada masyarakat dan memberikan solusi yang mencerahkan dan mencerdaskan, malah memberikan keputusan populis semata yang berujung pada rasa insecure masyarakat.

Satu hal lagi yang ingin kami sampaikan. Concern Dr Indra terhadap kesehatan dan perlindungan bayi dan anak Indonesia kami yakin tidak pernah pudar. Hingga detik terakhir komunikasi saya dengannya yang menjadi beban pikirannya adalah pasien-pasiennya. Karena dia yang sangat tahu riwayat kesehatan mereka. Oleh karena itu kehadiran Dr Indra untuk hadir dan mendampingi korban vaksin palsu dan memberikan ketenangan kepada mereka sangat dibutuhkan. Belum lagi pasien-pasien rawat inap terutama bayi baru lahir selalu menjadi beban pikirannya.

Demikian kiranya. Semoga kita dapat saling support, menguatkan satu sama lain untuk melawan kekuatan entah apa di balik semua ini. Bagi yang masih mendukung dan percaya kepada Dr Indra kami ucapkan beribu terimakasih dan mohon doa selalu.
Keluarga Melawan, Sebut dr Indra Sugiarno Tumbal Kasus Vaksin Palsu Keluarga Melawan, Sebut dr Indra Sugiarno Tumbal Kasus Vaksin Palsu Reviewed by Amborsius Ambarita on 7/16/2016 11:03:00 PM Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.