Mengenal Ima Matul, Eks TKI yang Jadi Pembicara di Konvensi Demokrat

Ima Matul, eks TKI yang menjadi pembicara di DNC
Ima Matul, eks TKI yang menjadi pembicara di DNC. (Facebook/matulima)
Ima Matul atau Immamatul Maisaroh (33), mantan TKI yang menjadi survivor human trafficking di Amerika Serikat (AS) diundang berpidato dalam konvensi Partai Demokrat (DNC) AS. Dia akan bicara tentang human trafficking. Perempuan asal Desa Kanigoro, Dusun Krajan, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Malang, Jawa Timur ini mengumumkan undangan berpidato itu melalui akun twitternya, @ImaHope4Freedom, pada Minggu, 24 Juli 2016 kemarin.



"It's official that I will be speaking on #humantrafficking issue at the #2016DNC," demikian cuitnya, seperti diberitakan Detikcom.



Ima juga melampirkan foto undangan berkop surat "2016 Democrat National Convention". Dalam undangan tertanggal 19 Juli 2016 yang ditujukan kepada Ima Matul via email itu, memang tertuliskan undangan untuk berpidato di Konvensi Partai Demokrat yang digelar mulai 25-28 Juli 2016 di Wells Fargo Arena, Philadelphia, Pennsylvania.

Ima akan berbicara tentang pengalamannya menjadi korban perbudakan manusia di AS dan program penanggulangan perdagangan manusia yang telah dilakukan Hillary Clinton.

Setelah berhasil selamat menjadi korban perdagangan manusia, Ima menjadi aktivis yang mengadvokasi korban-korban perdagangan manusia. Dia diangkat menjadi salah satu anggota Dewan Penasihat Perdagangan Manusia Presiden Barrack Obama bersama 10 anggota lainnya, Desember 2015 lalu.

Dikutip dari situs survivorofslavery.org, Senin (4/2/2014), Ima adalah salah seorang wanita yang selamat dari perbudakan di AS. Kisah pilunya bermula saat dia hendak bekerja di AS untuk mencari penghidupan yang layak.

Lewat sebuah agensi, dia dijanjikan bisa bekerja di Los Angeles dengan bayaran US$ 150. Namun ketika tiba di Los Angeles, Ima ternyata malah bertemu dengan pelaku perdagangan manusia. Lalu, dia dibawa ke sebuah rumah yang mirip dengan penjara.

Setiap hari, Ima dipaksa bekerja 18 jam, tanpa libur. Tak ada sedikit pun uang yang diberikan pada wanita yang kurang fasih berbahasa Inggris tersebut kala itu. Dia juga dilarang berbicara pada siapa pun.

Bila dia tak melakukan pekerjaannya dengan baik, sang majikan akan menyiksanya. Dari catatan kepolisian, Ima pernah dipukul menggunakan keramik.

Setelah 3 tahun hidup dalam penderitaan, Ima akhirnya tak tahan dan memutuskan untuk kabur. Caranya mirip dengan cerita di film.

Dengan bahasa Inggris seadanya, dia menulis sebuah surat untuk seorang asisten rumah tangga yang bekerja di dekat rumahnya. Dia meminta pertolongan agar segera bebas dari 'penjara' tersebut.

Hingga akhirnya tetangga tersebut mengatur upaya penyelamatan terhadap Ima. Ima pun bisa bebas dan langsung dibawa kantor Coalition Abolish Slavery and Trafficking (CAST) di Los Angeles.

Dipaksa Nikah Muda

Melalui perbincangan via BlackBerry Messenger (BBM), ia menceritakan bagaimana bisa sampai ke Amerika. "Dulu saya berhenti sekolah karena mau dikawinkan dengan orang yang tidak saya kenal. Akhirnya, saya kabur," ungkap Ima, Senin (25/7), seperti diberitakan Surya.

Ima kemudian mendaftar ke sebuah perusahaan untuk kerja sebagai tenaga kerja wanita (TKW) di Hongkong. Karena ia tidak punya pengalaman, jadi ia harus latihan kerja. "Saya latihan kerja di Malang dan majikan saya ini punya saudara sepupu di AS. Saudaranya ini perlu pembantu, saya ditawarin. Saya senang sekali karna gajinya 150 dolar AS per bulan," imbuhnya.

Pernyataan Ima dibenarkan oleh kedua orangtuanya, Turiyo (54) dan Alima (50). Mereka mengaku menjodohkan Ima saat masih duduk di bangku sekolah kelas 1 Sekolah Menengan Atas (SMA). Ima ketika itu kemudian melarikan diri karena tak cinta. "Anaknya tidak suka. Mereka sudah menikah tapi belum sampai punya anak," tutur ayah Ima, Turiyo saat dijumpai di rumahnya di Malang, Senin.

Turiyo dan istrinya saat itu tidak mengetahui kalau anaknya kabur, sampai pada akhirnya Ima ikut juragan untuk dipekerjakan sebagai tenaga kerja wanita (TKW). Namun mereka harus menebus Rp 600 ribu karena Ima lebih memilih untuk ikut bekerja di Amerika ketimbang di Hongkong.

Namun nahas, rupanya majikan di AS memperlakukan Ima dengan kejam. Ia dipaksa bekerja lebih dari 12 jam sehari. Bila melakukan kesalahan dalam bekerja, Ima harus menerima pukulan dari sang majikan. Gajinya selama dua tahun pun tak pernah dibayarkan.

Beruntung, sulung dari tiga bersaudara ini berhasil kabur dengan bantuan tetangga majikannya. Ima kemudian dibawa ke penampungan gelandangan dan ditangani organisasi nirlaba Coalition to Abolish Slavery and Trafficking (CAST).

Organisasi ini mencarikan pekerjaan baru bagi Ima. Perempuan inipun disekolahkan dan memperoleh berbagai macam kursus keterampilan. Berkat pendidikan yang diterima serta ketekunannya belajar, Ima diangkat menjadi staf CAST sejak 2012. Kini Ima dikenal sebagai aktivis yang memperjuangkan hak-hak buruh migran dan korban perdagangan manusia.

Perempuan bertubuh mungil ini kemudian diangkat menjadi 1 dari 10 penasihat Presiden Barrack Obama di bidang perdagangan manusia. "Kami sebagai orangtua ya hanya bisa mengiyakan keinginan anak. Ya syukur Alhamdulillah dia bisa sukses di sana," imbuh Turiyo sambil sesekali menyeka air matanya karena terharu dan mengingat anak sulungnya itu.

Orangtua Ima sehari‑hari hanya bekerja sebagai petani. Ima, dikatakannya tidak lupa dengan keluarga, dengan mengirim uang kepada mereka. Bahkan, Turiyo dan Alima sudah melaksanakan ibadah umrah.

Setelah Ima berada di Amerika mulai tahun 1997 ia menikah dengan lelaki asal Meksiko dan dikaruniai dua anak. Yakni Aisyah dan Leonardo. "Tak lama, mereka cerai. Dan menikah lagi dengan lelaki asal Bandung. Namanya Dian. Sudah punya anak satu. Namanya Ivana," cerita Turiyo.

Selama di Amerika, Turiyo dan istrinya selalu diberi kabar oleh anaknya. Bahwa anaknya menjadi relawan orang‑orang telantar di Amerika. Terakhir Ima pulang, lanjut dia, sudah dua tahun yang lalu.
Mengenal Ima Matul, Eks TKI yang Jadi Pembicara di Konvensi Demokrat Mengenal Ima Matul, Eks TKI yang Jadi Pembicara di Konvensi Demokrat Reviewed by Amborsius Ambarita on 7/25/2016 09:02:00 PM Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.