Cerita Alumni Paskibraka yang Banyak Memilih Karir Militer dan Polisi

Anggota paskibraka 2016 mengikuti Upacara Pengukuhan di Istana Negara
Anggota paskibraka 2016 mengikuti Upacara Pengukuhan di Istana Negara. (Foto: Liputan6.com)
Menjadi anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) tingkat nasional memang menjadi kebanggaan tersendiri karena bisa mengalahkan ribuan pesaing mengingat seleksi dan pembinaan yang ketat dilakukan. Mengingat anggota Paskibraka bersika cekatan, kuat mental dan disiplin, tak heran banyak alumni atau purna Paskibraka yang memilih melanjutkan karir sebagai anggota militer dan polri sesudah lulus SMA.


Namun, alumni Paskibraka nasional tak otomatis lolos dengan mudah ke akademi militer atau polisi. Kepala Sub Bidang Penerangan Masyarakat Humas Polda Sulsel, AKBP Muhammad Siswa, pada tahun 2012 pernah mengatakan sebenarnya prestasi Paskibraka Nasional memang menjadi salah satu pertimbangan (talent scouting). Namun itu bisa dilakukan setelah yang bersangkutan telah melalui semua tahapan.

“Proses seleksi itu kan ada empat tahapan. Ada tahapan kesehatan, akademik, fisik, dan psikotes. Jika semua itu telah dilalui maka, talenskoting telah mengikuti Paskibraka Nasional itu bisa menjadi salah satu pertimbangan,” kata Siswa menerangkan menjawab protes seorang alumni paskibraka yang tak lolos seleksi Akmil tahun 2012.

Selama ini, lanjut Siswa, pihak panitia telah melakukan seleksi setransparansi mungkin. Bahkan, dia berani membuka hasil tes yang telah dilalui jika ada peserta yang meminta kejelasan. “Kita bisa melihat hasil tes akademiknya jika memang diperlukan,” tambahnya.

Tahun 1967 saat era Presiden Soeharto anggota Paskibraka diambil dari Pasukan Pengawal Presiden (PASWALPRES) yang bertugas di lingkungan Istana Kepresidenan Jakarta. Dan mulai tanggal 17 Agustus 1968, petugas pengibar bendera pusaka adalah para pemuda utusan provinsi yang disaring secara ketat.

Subagyo, pembina Paskibraka sejak tahun 1988 dan masih aktif hingga saat ini mengatakan para anggota Paskibraka bukan hanya pasukan pembawa bendera, mereka adalah pemuda-pemudi yang disiapkan untuk menjadi pemimpin bangsa ke depan. Dia mencontohkan salah satu alumni Paskibraka yang akhirnya bisa menjadi Kapolri adalah Jenderal (Purn) Timur Pradopo.

"Seperti Pak Timur Pradopo pernah menjadi Danpas tahun 89 beliau waktu itu sudah di Polri," ucap Subagyo saat berbincang dengan detikcom di Bumi Perkemahan Cibubur, Jaktim, Senin (24/8/2015), seperti diberitakan Detikcom.

Selain Timur, menurut Subagyo ada juga beberapa alumni Paskibraka yang berkarier di kepolisian dan militer. Mereka masuk Akademi Kepolisian (Akpol) dan Akademi Militer (Akmil).

"Banyak mereka masuk di Akpol, AURI justru mereka yang bandel-bandel malah kariernya menjadi sukses. Terkadang mereka kembali ke sini sudah berpangkat Mayor, Kolonel. Itu banyak. Saya lupa karena saking banyaknya setiap tahun," ujarnya sambil tertawa.

Subagyo mengungkapkan ada satu anak binaannya yang masih diingat sampai sekarang. Saat ini dia berkarier di Polda Metro Jaya berpangkat AKBP, namanya Doni anggota Paskibraka tahun 1991 dari Timor-Timur.

"Jadi ceritanya dia ini belum pengalaman, kakinya lecet dia mengeluh sakit kepada saya. Setelah saya kasih minyak, tidak lama dia ngeluh lagi. "Kak kaki saya masih sakit? Saya tanya memang apa yang kamu lumuri? "Sepatunya kak," ucap Doni kala itu seperti ditirukan Subagyo.

"Sontak teman-temannya pada ketawa semua mereka, saya bilang ke dia. "Kamu ini kaki yang lecet malah sepatunya kamu lumuri!" Alhasil sepatu dia menjadi kumel," tambah Subagyo.

Subagyo tidak menyangka, Doni akhirnya bisa menjadi perwira. Saat 17 Agustus kemarin, Subagyo sempat bertemu dengan Doni dan ditanya apakah Doni tidak ingin menjadi warga negera Timor-Timur.

"Saya sempat bilang kamu tidak kembali ke Tim-Tim? Dia bilang tidak Pak, saya sudah masuk Indonesia, saya mengabdi ke Merah Putih. Saya niat untuk kembali Indonesia," ujarnya.

Selain Doni, ada juga anggota Paskibraka tahun 2008 yang ikut Akpol dan kini dinas di Polda Metro Jaya. "Dia menjadi pembawa baki tahun 2008 utusan dari Bali, sekarang dinas di Polda Metro Jaya," ucap Subagyo bangga.

Di kesempatan yang sama AKP Arthur Sameaputty yang merupakan Akpol 2005 dan kini menjabat Kasiops Satuan I Gegana Korps Brimob Polri juga berbagi cerita soal pengalamannya menjadi anggota Paskibraka. Dia yang masih menjadi pelatih ini awalnya tidak menyangka bisa terpilih menjadi pasukan Paskibraka.

"Tidak nyangka jalan hidup tidak bisa prediksi, kita hanya bisa menjalankan saja," ucap Arthur yang saat itu terpilih mewakili daerah Ambon, Maluku.

Menurutnya sejak SD kelas 2 dia sering melihat upacara pengibaran bendera. Saat dia duduk di bangku 6 SD dia bilang kepada ibunya ingin menjadi pasukan pengibar bendera.

"Saya bilang sama mama saya. "Mama, saya mau jadi paskibraka, saya janji buat mama suatu saat saya akan jadi Paskibraka dan mama akan tonton saya dari Ambon," kisah Arthur.

Perjuangan Arthur banyak mendapat ritangan, apalagi kala itu di Ambon banyak kerusuhan. Namun akhirnya nama dia terpilih untuk menjadi anggota Paskibraka dan terbang ke Jakarta.

"Saya berangkat mama mengantar saya ke bandara, mama menangis dengan mata berkaca-kaca. Saya sendiri juga tidak kuat menahan air mata saya," ucapnya.

Dia berpesan agar para anggota Paskibraka yang terpilih nanti harus bisa memberikan yang terbaik. Mereka terpilih untuk mengibarkan bendera pusaka dengan seleksi yang ketat dan pelatihan serta pembinaan yang sangat bagus.

"Pesan saya singkat, menjadi terbaik sebagai anggota Paskibraka dan jadilah terbaik sepanjang hidup sampai menutup mata," tutup Arthur.
Cerita Alumni Paskibraka yang Banyak Memilih Karir Militer dan Polisi Cerita Alumni Paskibraka yang Banyak Memilih Karir Militer dan Polisi Reviewed by Amborsius Ambarita on 8/17/2016 04:35:00 AM Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.