Ini Kesaksian Psikiater Natalia Widiasih Soal Kejiwaan Jessica

Jessica Kumala Wongso saat menjalani sidang lanjutan di PN Jakarta Pusat
Jessica Kumala Wongso saat menjalani sidang lanjutan di PN Jakarta Pusat. (Detikcom)
Tiga saksi ahli dihadirikan jaksa penuntut umum dalam sidang lanjutan pembunuhan Wayan Mirna Salihin. Salah satunya adalah psikolog forensik dari RSCM, Natalia Widiasih Raharjanti. Bersama dr Winardi dan dr Djarot, Natalia telah melakukan lima tahap pemeriksaan kejiwaan terhadap Jessica Kumala Wongso dengan metode multiaksial diagnosis.

Pertama, tim dokter psikiatri melakukan wawancara terstruktur dengan meminta Jessica bercerita soal kematian Mirna, apa yang dilakukan, dipikirkan dan dirasakan Jessica pasca-Mirna meninggal. Setelah itu, Jessica juga menjalani pemeriksaan klinis untuk mengetahui apakah ada sakit fisik yang dialami Jessica sehingga mengganggu perilakunya.

"Kemudian kita lihat data-data Jessica. Ada berkas dari penyidik, rekaman CCTV, transkrip pembicaraan di WA (whatsapp), transkrip pembicaraan Jessica di telepon, termasuk data Australia Federal Police (AFP). Untuk mengetahui ada enggak yang inkonsisten dengan cerita Jessica. Kalau ada akan kami kroscek yang benar yang mana," kata Natalia saat memberi keterangan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Kamis (18/8/2016).

Kemudian, tim psikatri juga mewawancarai Ibunda Jessica Imelda Wongso sebagai orang terdekat Jessica dan Hanie Juwita Boon sebagai saksi yang ada di Kafe Olivier, Grand Indonesia, saat Mirna terkena racun sianida. Terakhir, tim psikiatri menanyakan seputar masalah pribadi yang dialami Jessica selama kurun waktu yang berdekatan dengan peristiwa kematian Mirna.

"Lalu kami minta data dari Ibu Imelda dan Hanie, karena dia ada di lokasi dan menyaksikan juga. Kita menilai apakah perilaku Jessica karena terperiksa saat itu sedang banyak masalah," ujar Natalia.

Berikut keterangan psikiater Natalia soal kejiwaan Jessica.

1. Jessica Wongso Tak Ada Tanda Gangguan Jiwa Berat

Psikiater Forensik RSCM dr Natalia Widiasih Raharjanti dan dua rekannnya pernah memeriksa Jessica Kumala Wongso selama 6 hari setelah berstatus tersangka kasus pembunuhan Wayan Mirna Salihin pada 11-16 Februari 2016. Ia mengungkapkan Jessica tak memiliki tanda-tanda gangguan jiwa berat.

"Secara singkat apa hasil pemeriksaan tim RSCM ini terhadap visum et repertum (VeR) psikiatrum terhadap terdakwa. Pertama mungkin kaitannya, apa kepribadian dari terdakwa ini?" tanya jaksa Ardito dalam persidangan.

"Pada terperiksa Jessica Kumala Wongso kami simpulkan pada saat pemeriksaan selama di Departemen Psikiatri tanggal 11-16, pada saat pemeriksaan tidak didapatkan adanya tanda-tanda gangguan jiwa berat," jawab Natalia.

"Namun dari riwayat yang diperoleh dari catatan Kepolisian Australia, didapat riwayat kalau ternyata dalam situasi tekanan ada emosi yang muncul, misalnya putus dengan pacar," Natalia menambahkan.

2. Jessica Wongso Bermasalah Akhir 2015

Natalia Widiasih Raharjanti menyebutkan kondisi Jessica Wongso bermasalah pada akhir 2015. Padahal kondisi sebelumnya, Jessica baik-baik saja. "Jessica baik-baik saja pada 2007-2008. Masalah terjadi pada akhir 2015 dari November-Desember. (Jessica) sedang banyak masalah, banyak tekanan," ujar Natalia.

Jessica memiliki masalah dengan pacarnya, Patrick. Bahkan Jessica melakukan tindakan agresifitas impulsif akibat bermasalah dengan pacarnya. Menurut Natalia, sebelum bermasalah dengan pacarnya, hubungannya dengan teman-temannya baik. Bahkan Jessica sangat nyaman pada teman yang memberikan dia saran.

"Ada rekan kerja yang membuat Jessica nyaman seperti Selly Conan," ucap Natalia.

Dalam dakwaan disebutkan Jaksa penuntut umum menyatakan Jessica membunuh Mirna karena Mirna pernah menegur Jessica agar putus dari pacarnya.

"Sekitar pertengahan 2015, Mirna mengetahui permasalahan dalam hubungan percintaan antara terdakwa dengan pacarnya sehingga Mirna menasihati terdakwa agar putus saja dengan pacarnya yang suka kasar dan pemakai narkoba, dengan menyatakan buat apa pacaran dengan orang yang tidak baik dan tidak modal," kata jaksa Ardito Muwardi saat membacakan surat dakwaan.

"Ucapan Mirna tersebut ternyata membuat terdakwa marah dan sakit hati sehingga terdakwa memutuskan komunikasi dengan Mirna," jelasnya.

Di masa selanjutnya, Jessica kemudian putus dengan pacarnya dan mengalami beberapa peristiwa yang membuatnya harus berurusan dengan pihak Kepolisian Australia. Hal tersebut membuat Jessica semakin merasa sakit hati dengan Mirna.

"Membuat terdakwa semakin tersinggung dan sakit hati kepada Mirna, sehingga untuk membalas sakit hatinya tersebut, terdakwa merencanakan untuk menghilangkan nyawa Mirna," ujar jaksa Ardito.

3. Jessica Berubah Saat Putus dari Pacar

Jessica Kumala Wongso dikenal baik oleh teman-teman di tempat kerjanya di Australia. Perubahan sikap Jessica terlihat saat dia putus dengan pacarnya akhir tahun 2015.

"Semua rekan keja bilang Jessica baik, menyenangkan, ramah dengan orang lain, tipe Asian girl mereka bilangnya. Mereka baru kaget saat (Jessica) masuk rumah sakit (karena tabrak panti jompo). Mereka melihat (perubahan) itu setelah Jessica putus pacar," kata Natalia.

Natalia diminta penyidik untuk memeriksa kejiwaan Jessica. Natalia bersama dengan timnya sempat mewawancarai rekan kerja Jessica di Australia. Menurut Natalia ada beberapa rekan kerja yang bisa membuat Jessica nyaman, yaitu mereka yang memiliki figur dewasa yang bisa mengayomi.

"Itu (Jessica nyaman) terlihat kalau dekat figur nurture, kondisi psikologinya stabil," ucap Natalia.

"Cuma di mantan pacar (Jessica) Patrick itu terlihat kondisi emosi," tambahnya.

Menurut Natalia, dalam kehidupan sehari-hari di tempat kerjanya di Australia Jessica kondisinya stabil, namun bila dalam tekanan dia bisa melakukan hal-hal yang merugikan dia dan orang lain.

"Dia normal, tapi dalam situasi tekanan ini bisa muncul kelihatan emosinya bisa bentuknya marah atau menyakiti diri," ucapnya.

4. Jessica Tak Dites dengan Lie Detector

Psikiater forensik dari RSCM memeriksa Jessica Kumala Wongso selama 6 hari dengan beragam metode. Meski begitu, tak dilakukan tes kebohongan terhadap yang bersangkutan dengan menggunakan lie detector.

Menurut psikiater forensik RSCM dr Natalia Widiasih, tes kebohongan dengan lie detector tidak dilakukan di RSCM. Kalaupun dilakukan, seseorang dengan pembawaan yang sangat tenang akan bisa lolos saat pemeriksaan lie detector.

"Saya jawab sesuai teori ya, karena kita di RSCM tidak menggunakan lie detector. Lie detector hanya mendeteksi perubahan suhu tubuh, respon tubuh, kalau seseorang disuruh jawab pertanyaan ada perubahan positif atau negatif itu tetap harus diverifikasi. Apakah perubahan ini karena takut atau karena dia bohong, itu kita enggak bisa bedain hanya dengan positif negatif," kata Natalia.

"Kita tetap harus memeriksa lebih dalam lagi. Makanya di kami kenapa perlu data kolateral adalah untuk memverifikasi apakah data yang dia katakan itu sesuai data atau tidak. Berdasarkan itu kita tahu apakah ini inkonsisten atau tidak. Pada orang-orang yang bisa tenang sekali, dia bisa membuat emosinya tertata baik, itu bisa jadi dia bisa lolos dengan tes ini," jelasnya.

Selama diperiksa oleh psikiater forensik pada 11-16 Februari 2016, Jessica dikatakan sangat tenang. Dia hanya sesekali terlihat bad mood dan itu jarang sekali.

Jaksa kemudian bertanya, apakah Jessica termasuk kategori yang tenang sekali sehingga tidak dilakukan tes kebohongan dengan lie detector.

"Bisa iya bisa tidak, karena tidak kita lakukan (lie detector). Selama pemeriksaan Jessica sangat tenang, sangat menjaga emosinya. Tidak pernah melihat dia ada riakan emosi. Kecuali di beberapa hal yang dia tidak siap. Misalnya waktu psikotes, dia bilang dia tidak suka matematik dan ada soal aritmatik, itu kelihatan emosinya langsung minta kopi," tutur Natalia.

5. Temukan 5 Inkonsistensi Keterangan Jessica Wongso dengan BAP

Natalia Widiasih mencatat setidaknya ada 5 inkonsistensi keterangan Jessica Kumala Wongso dengan fakta lainnya. Meski begitu, Natalia menyebut pihaknya tidak bisa menyimpulkan hal tersebut sebagai kebohongan.

6. Jessica Wongso Bilang Jika Bunuh Orang Tinggal Ambil Pistol atau Racun

Rekan kerja Jessica Kumala Wongso di NSW Ambulance Australia, Kristie Louise Charter, mengatakan kebiasaan Jessica di kantor berubah sejak putus dengan pacarnya. Bahkan Kristie menyebut Jessica sempat mengatakan tentang tata cara membunuh orang. Natalia mendapat informasi tersebut, saat mewawancarai Kristie di Autralia. Natalia bersama tim dari RSCM memang meminta keterangan kepada teman-teman Jessica di Australia untuk mengetahui kejiwaan Jessica selama di sana.

"Pada saat Jessica pernah dirawat di bangsal di sana, apakah Kristie pernah menceritakan ada sesuatu yang diucapkan Jessica pada saat itu. Apa yang dikatakan?" tanya jaksa penuntut umum kepada Natalia.

"Kalau saya tidak salah ingat, Jessica berkata bahwa, Kristie menyatakan 'Kalau saya mau bunuh diri, saya kan tinggal gampang aja, atau membunuh orang saya tinggal ambil pistol atau racun'. Seperti itu kata-katanya (cerita Kristie)," ujar Natalia.

Jaksa penuntut umum kemudian membacakan berita acara pemeriksaan (BAP) Kristie.

"Saya bacakan, apakah benar seperti ini 'para bangsat di rumah sakit ini tidak mengizinkan pulang dan mereka memperlakukan saya seperti pembunuh, seandainya saya ingin membunuh orang maka saya tahu pasti caranya. Saya bisa mendapatkan pistol dan saya tahu dosis yang tepat". (Apakah) ini kata-kata Kristie pada Anda saat itu?" ujar jaksa.

Natalia mengiyakan BAP yang dibacakan jaksa tersebut. Namun saat dikonfirmasi, Kristie mengaku tak tahu maksud Jessica apa.

"Kami dan polisi juga menanyakan maksudnya apa, dan dia (Kristie) tidak bisa kasih keterangan lebih lanjut," tutur Natalia.

Natalia juga mengatakan, saat diperiksa di Departemen Psikiatri RSCM, Jessica sama sekali tak menceritakan mengenai apa yang dia katakan ke Kristie. Jessica menyebut ke Indonesia untuk liburan, padahal dalam chat dengan rekan kerjanya yang lain, diketahui bahwa Jessica ke Indonesia untuk menghindari segala permasalahan yang terjadi di Australia.
Ini Kesaksian Psikiater Natalia Widiasih Soal Kejiwaan Jessica Ini Kesaksian Psikiater Natalia Widiasih Soal Kejiwaan Jessica Reviewed by Amborsius Ambarita on 8/18/2016 01:09:00 AM Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.