Ini Penjelasan Dokter Spesialis Soal Mike Mohede Kena Serangan Jantung

Suasana rumah duka Mike Mohede
Suasana rumah duka Mike Mohede. (Foto: Detikcom)
Penyanyi Mike Mohede menghembuskan nafas terakhir di usia 32 tahun pada Minggu (31/7) malam. Pria bernama lengkap Michael Prabawa Mohede ini meninggal akibat serangan jantung.



Menurut dokter spesialis jantung dan pembuluh darah Rumah Sakit Jantung Harapan Kita, Ismoyo Sunu, kematian mendadak tanpa didahului gejala atau keluhan yang khas, seperti yang dialami Mike Mohede, biasanya karena dua masalah jantung, yaitu sindrom brugada (brugada syndrome) dan serangan jantung koroner.

Sindrom Brugada adalah ketidaknormalan sistem listrik jantung yang mengakibatkan gangguan irama jantung (aritmia), yang membahayakan jiwa. Penyakit ini biasanya karena genetik atau bawaan sejak lahir.

"Penyakit ini mengancam jiwa, karena datangnya tiba-tiba, tidak ada gejala, dan tanpa sadar meninggal. Biasanya karena genetik atau bawaan lahir,” kata Ismoyo kepada SP di Jakarta, Senin (1/8), seperti diberitakan Beritasatu.com.

Ismoyo mengatakan, sebanyak 0-3 persen hingga 0,5 persen dari penduduk ASEAN menderita brugada sindrom tipe 1, dan 2,23 persen untuk tipe 2. Sedangkan di Indonesia belum ada data khusus. Laki-laki lebih berisiko 8 hingga 10 kali lipat dibanding wanita. Penyakit ini dikaitkan dengan hormon testoteron pada laki-laki. Semakin tinggi testoteronnya, semakin tinggi pula risiko meninggal akibat brugada sindrom. Mereka yang memiliki keluarga dengan riwayat brugada sindrom juga berisiko tinggi.

"Penyakit brugada sindrom sudah ada sejak lahir, tetapi tidak menyebabkan kematian. Risiko meninggal makin tinggi seiring hormon testoteronnya juga tinggi. Mengapa kaitannya dengan testoteron, masih dalam penelitian," katanya.

Burgada sindrom bisa dideteksi sejak anak-anak, dan hanya dokter yang bisa melihatnya melalui pemeriksaan Elektrokardiogram atau EKG. Bila terdiagnosa brugada sindrom, pengobatannya dengan memasang alat Implantable Cardiac Defibrillator (ICD).

ICD adalah perangkat elektronik kecil yang dipasang di dalam dada untuk mencegah terjadinya kematian jantung mendadak. Cara kerja ICD mirip dengan alat pacu jantung. ICD mampu memantau dan akan memberikan shocks ke jantung apabila tiba-tiba berhenti, dan mengembalikan irama jantung ke kondisi normal. Ketika irama jantung terdeteksi dengan sangat cepat, kejutan listrik secara otomatis akan diberikan ke otot jantung sehingga kembali normal.

Gejala-gejala yang bisa dilihat, seperti pernah pingsan dan jantung berdebar. Tetapi umumnya pasien tidak mengetahui itu gejala brugada sindrom, sehingga tidak ditindaklanjuti. Bila pasien pernah tidak sadarkan diri dan jantung berdebar, maka layak untuk mendapatkan terapi ICD.

"Pasien termuda yang meninggal akibat brugada sindrom biasanya berusia 18-20 tahunan. Pemasangan ICD dimaksudkan untuk mencegah kematian dini," kata Ismoyo.

Selain brugada sindrom, serangan jantung koroner juga menyebabkan kematian mendadak pada usia muda. Serangan itu terjadi karena terjadi sumbatan pada pembuluh darah koroner. Penyakit ini menyerang usia lebih muda karena gaya hidup.

Di RS Jantung Harapan Kita, pasien berusia 30 tahun sudah menjalani operasi bypass, yaitu prosedur membuat rute baru bypass untuk aliran oksigen dari darah ke jantung. Ada pula pasien berusia lebih muda, yaitu 25 tahun, akibat radang pada pembuluh darah jantung.

Hipertensi, kolesterol tinggi, kegemukan, atau obesitas berisiko tinggi terjadinya serangan jantung. Ini dipicu oleh gaya hidup, seperti merokok, minuman alkohol, kelebihan gula dan garam, tidak berolahraga, stres, dan kurang istrahat. Pencegahannya dengan cara kenali dan kendalikan faktor risiko tersebut.
Ini Penjelasan Dokter Spesialis Soal Mike Mohede Kena Serangan Jantung Ini Penjelasan Dokter Spesialis Soal Mike Mohede Kena Serangan Jantung Reviewed by Amborsius Ambarita on 8/01/2016 09:17:00 AM Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.