Jelang Pilgub DKI, Ahok Terapkan Strategi "Jangan Pilih Saya"

Ahok saat diwawancara awak media di Balai Kota
Ahok saat diwawancara awak media di Balai Kota. (Foto: Liputan6.com)
Berbeda dengan kepala daerah lainnya, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok memang menjadi anomali. Ada yang mengatakannya sebagai kutu loncat yang ambisius, tapi masyarakat juga mencatatnya sebagai sosok yang bersih dan menbawa harapan. Ia membawa cara baru berkampanye dengan bermodal kartu nama.



Ia memelopori transparansi pada masyarakat dengan cara menyajikan seluruh laporan aktivitas dan keuangannya di website sejak menjadi anggota DPR RI. Ia berani menantang pejabat lain untuk diperiksa asal harta kekayaannya. Beberapa penghargaan sebagai Tokoh Anti Korupsi pun pernah diterima.

Kini, Ahok kembali menerapkan strategi kampanye berbeda menjelang Pilgub DKI 2017. Ia memainkan psikologi calon pemilihnya dengan menyelipkan pesan 'jangan pilih saya' saat menyampaikan sambutan.

Contohnya saat menyampaikan sambutan pada soft launching pembangunan tujuh tower Rusun Daan Mogot, Jakarta Barat, dan pada acara Bazaar Art Jakarta 2016, beberapa waktu lalu. Ahok meminta warga untuk tak memilihnya pada Pilkada DKI Jakarta 2017.

"Bapak Ibu harus pilih siapa? Pilih yang lebih baik, lebih cerdas, dan lebih jujur dari saya. Kalau ada yang seperti itu, Bapak, Ibu, jangan pilih saya, nanti rugi," kata Ahok.

Menurut Ahok, jika memilih pemimpin yang lebih baik dari dirinya, nantinya warga Jakarta akan mendapat pemimpin terbaik dari yang terbaik.

Hal itu pula yang membuat Ahok mendorong para kepala daerah atau birokrat berpengalaman maju pada Pilkada DKI Jakarta 2017. Sebab, pemerintahan Jakarta menjadi etalase pemerintahan provinsi lainnya di Indonesia.

"Kalau Bapak, Ibu, enggak suka sama saya, enggak usah demo. Lebih baik, enggak usah pilih saya nanti tanggal 15 Februari 2017 (saat pemungutan suara)," kata Ahok.

Ia juga meminta warga untuk tak memercayai jika ada pejabat meminta memilih Ahok pada Pilkada DKI Jakarta 2017.

Dia meyakini, siapa pun gubernur yang akan menggantikannya akan melanjutkan sistem yang telah dibangun. Sebab, Presiden Republik Indonesia Joko Widodo, yang disebut Ahok masih menjabat gubernur, juga akan mengawasi pemerintahan baru DKI Jakarta.

"Kalau Bapak, Ibu, pilih saya lagi, saya jamin tambah menderita lima tahun karena pasti saya akan lebih menekan lagi untuk tidak nyolong anggaran dan tarik uang tunai," kata Ahok berkelakar.

Pada kesempatan berbeda, Ahok membantah ajakan untuk tak memilih dirinya pada Pilkada DKI Jakarta 2017 merupakan strategi agar warga memilihnya. Ahok menyebut hal ini merupakan edukasi bagi warga.

"Politisi yang baik, parpol yang baik, tugasnya mengedukasi masyarakat untuk memilih pemimpin yang benar. Saya dari dulu berpolitik, konsisten mengedukasi masyarakat," kata Ahok.

Satu bagian penting yang diedukasikan kepada warga adalah memilih pemimpin terbaik dari yang terbaik sehingga ia berjanji tak akan berkampanye hitam ataupun merendahkan calon gubernur lainnya.

Saat ini, Ahok juga akan maju pada Pilkada DKI Jakarta 2017. Sudah ada tiga partai politik yang mendukungnya, yakni Partai Nasdem, Hanura, dan Golkar.

"Saya enggak pernah jelek-jelekin orang kalau berkampanye. Saya sudah katakan, kalau ada (calon gubernur) yang lebih baik dari saya, jangan pilih saya. Dari dulu saya konsisten," kata Ahok.
Jelang Pilgub DKI, Ahok Terapkan Strategi "Jangan Pilih Saya" Jelang Pilgub DKI, Ahok Terapkan Strategi "Jangan Pilih Saya" Reviewed by Amborsius Ambarita on 8/28/2016 09:31:00 AM Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.