Wacana Full Day School, Ini Kritikan untuk Mendikbud

Mendikbud Muhadjir Effendy yang menggagas full day school
Mendikbud Muhadjir Effendy yang menggagas full day school. (Foto: Liputan6com)
Baru menjabat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhadjir Effendy sudah melontarkan wacana full day school yang menuai kontroversi di kalangan masyarakat. Muhadjir berasumsi program ini bisa menerjemahkan lebih lanjut dari program nawacita Jokowi-JK yang dimana pendidikan dasar SD dan SMP itu pendidikan karakter lebih banyak dibanding knowledge basenya. Guru diberikan banyak waktu untuk mendidik dan menanamkan karakter nawacita kepada murid-muridnya.



Selain itu, Mendikbud berharap program ini dapat mencegah penyimpangan para pelajar usai pulang sekolah. Full day school ini akan dikombinasikan dengan kegiatan-kegiatan di luar kelas. Tujuannya agar para siswa tidak terbebani secara psikologis dengan mengikuti program belajar yang hanya di ruang kelas.

Mendikbud menjelaskan full day school telah dipraktikkan di sekolah-sekolah swasta. Bila program ini diterapkan, maka para siswa akan mendapatkan dua hari libur pada Sabtu dan Minggu.

Sebagian besar para tokoh pendidikan menyarankan agar program full day school harus dikaji secara matang dan diuji coba ke publik. Penerapan program ini juga membutuhkan tenaga pengajar yang berkualitas dan kreatif. Sarana dan prasarana sekolah pun harus mendukung. Dengan begitu, program ini akan menghasilkan anak didik yang cemerlang.

Berikut kritik tentang full day school

1. Indonesia Belum Siap

Anggota Komisi X DPR Dadang Rusdiana dan Sosiolog Musni Umar menilai Indonesia belum siap menerapkan sekolah sepanjang hari (full day school) untuk SD dan SMP negeri maupun swasta‎. "Kalau di desa-desa, saya tidak setuju diberlakukan. Bukan saja tidak memiliki segala macam kesiapan, tetapi anak masih berfungsi sebagai tenaga perbantuan orangtua untuk ikut menopang kehidupan ekonomi keluarga," ujar Musni, Senin (8/8/2016), seperti diberitakan Sindonews.com.

Dia berpendapat, gagasan full day school cocok diterapkan di Singapura, Malaysia dan negara lain yang sudah maju. Pertama, lanjut dia, tingkat kesibukan kedua orangtua sangat tinggi, karena keduanya bekerja di luar rumah untuk menopang kehidupan ekonomi keluarga. Sehingga lebih baik kalau anak lebih lama di sekolah ketimbang di rumah yang tidak ditemani oleh siapapun.

2. Tingkat ekonomi keluarga belum memadai

Menurut Musni, tingkat kehidupan ekonomi keluarga di Indonesia belum memadai secara merata, sehingga belum mampu memberi dana yang cukup kepada putera-puterinya jika full day school. Sementara Dadang menyebutkan program ini harus diikuti oleh tambahan sarana prasarana tempat istirahat yang memadai buat anak. Fasilitas kantin yang aman bagi kesehatan, dan tentunya uang saku harian yang cukup.

3. Perlu kajian matang

Pengamat Pendidikan Mohammad Abduhzen menilai ide Full Day School ini memerlukan pertimbangan dan kajian yang matang. "Ini baru gagasan dan wacana. Namun ide full day itu memerlukan kajian dan persiapan matang. Kalau sekolahnya tidak menyenangkan membuat anak bosan dan kurang berkembang," ujarnya.

Abduh menilai memang sebaiknya gagasan ini diuji-cobakan terlebih dahulu ke publik untuk melihat bagaimana respons masyarakat terhadap wacana tersebut. "Untuk memastikannya memang sebaiknya diujicobakan dulu," kata dia.

4. Dapat ganggu interaksi anak

Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Asrorun Niam Saleh menilai wacana belajar sehari penuh di sekolah yang digagas Mendikbud Muhadjir Effendy perlu dikaji ulang. Niam menyebut program itu tidak dapat menyelesaikan masalah pendidikan secara keseluruhan.

"Yang pertama kalau mengeluarkan kebijakan pendidikan apalagi yang bersifat nasional tidak bisa didasarkan pengalaman orang perorang. Pengambilan kebijakan nasional tidak boleh parsial. Tidak boleh hanya berdasar kepada pengalaman pribadi," kata Niam, Senin malam (8/8/2016), seperti diberitakan Detikcom.

Niam menjelaskan antara siswa yang satu dengan yang lainnya tidak bisa disamaratakan. Menghabiskan waktu dengan durasi panjang di sekolah, sambung Niam, dapat mengganggu intensitas interaksi anak.

"Faktanya anak-anak butuh interaksi dengan teman sebaya di sekolah maupun di rumah. Intensitas pertemuan anak dan orang tua juga pasti akan berkurang, dan itu hal yang berpengaruh dalam proses tumbuh kembang anak," jelas Niam.

"Masing-masing keluarga itu memiliki kondisi yang berbeda, tidak bisa digeneralisasikan bahwa full day itu menyelesaikan masalah sepenuhnya. Tidak semua orang tua (siswa) itu bekerja. Artinya jangan dibayangkan kondisi seluruh orang tua di Indonesia hanya seperti yang dialami oleh Mendikbud. Kebijakan nasional harus didasarkan kepada kajian yang utuh," imbuhnya.
Wacana Full Day School, Ini Kritikan untuk Mendikbud Wacana Full Day School, Ini Kritikan untuk Mendikbud Reviewed by Amborsius Ambarita on 8/08/2016 09:11:00 PM Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.