Disentil Buwas, Ahok Tantang BNN Berani 2 Kali Razia Diskotek

Ahok di kantornya
Ahok di kantornya. (Detikcom)
Beritakepo.com. Jakarta - Kepala BNN Komjen Budi Waseso tak hanya mendadak curhat soal mantan Mendikbud Anies Baswedan, calon petahana Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang berlaga di Pilgub DKI 2017 juga disentil pria yang akrab disapa Buwas ini.

Buwas menyoroti komitmen Ahok dalam hal pemberantasan narkoba di tempat-tempat hiburan malam. Buwas awalnya berkisah bagaimana dia mendapat dukungan dari Ahok sebagai Gubernur DKI Jakarta untuk menutup tempat hiburan malam jika terbukti ada praktik peredaran narkoba.

Karena mendapat dukungan dari Ahok, BNN pun semangat melakukan operasi di tempat hiburan malam. BNN juga berhasil menangkap adanya peredaran barang terlarang itu. Namun kenyataan janji Ahok tidak terbukti.

"Tempat hiburan telah kita razia berkali-kali. Pak Gubernur tidak konsisten. Jeprat jepret dapet, lho kok enggak ditutup," ungkap Buwas saat pertemuan dengan media di Hotel Singgasana, Surabaya, Rabu (26/10) malam.

BNN, kata Buwas, tentu merasa kecewa karena Pemprov DKI Jakarta tidak menutup tempat hiburan malam yang terbukti menjadi lokasi peredaran narkoba.

"Alasannya ada kaitannya dengan ini itu, kan sama saja. Saya bilang kepadanya, ada peraturan daerah (perda). Saya sudah siapkan 50 ekor anjing pelacak untuk melacak. K-9 kita hebat lho," tegas Buwas.

Lalu apa tanggapan Ahok?

Ahok merespons sentilan itu dengan tantangan untuk Buwas dan lembaga BNN.

"Justru saya nantang BNN, kamu tangkap dong! Sudah banyak tangkap sekali kok diam? Tangkap dong semua. Anda bisa buktikan ada barang, kami tutup (tempat hiburan malam). Enggak peduli siapa," kata Ahok di Balai Kota, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Kamis (27/10/2016).

BNN dinilai Ahok hanya sekali saja melakukan razia dan mendapati tempat hiburan malam, misalnya diskotek, yang terdapat narkoba. Namun razia BNN di diskotek yang kedapatan ada narkobanya berhenti hanya sekali saja, tak dilanjutkan untuk razia kedua kalinya.

Padahal, aturan di Pemprov DKI yang disepakati dengan pihak Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri serta BNN, tempat hiburan malam akan ditutup bila dua kali kedapatan ada narkobanya. Ahok menyayangkan langkah BNN yang hanya sekali saja merazia ini.

"Justru saya menyayangkan sebetulnya, dua kali yang saya tutup itu bukan tertangkap dua kali, tapi tertangkap sekali terus sepi. Kenapa bisa dua kali? Karena ada yang mati overdosis. Lalu baru saya tahu dua kali," kata Ahok.

Ahok menyatakan hal yang membuat tempat hiburan malam di Jakarta ditutupnya bukan karena BNN mendapai satu tempat digunakan sebagai aktivitas penyalahgunaan narkoba untuk kedua kalinya, melainkan satu kali BNN merazia dan satu kali lagi bukan dari BNN, melainkan dari peristiwa yang menjadi ramai di publik ada yang tewas overdosis narkoba.

"Jadi saya tidak pernah tahu dari BNN dua kali ada orang yang pakai obat sebetulnya loh. (Tahunya dari) kejadian," kata Ahok.

Terlepas dari itu, Ahok juga tak setuju bila metode yang digunakan untuk menghukumi tempat hiburan malam adalah lewat tes urine. Sebab, seseorang yang mengonsumsi narkoba di satu tempat bisa berpindah tempat di lokasi lain, kemudian di lokasi terakhir ini dia dites urine dan dinyatakan positif mengonsumsi narkoba. Berdasarkan tes urine ini, tempat itu dinyatakan harus ditutup.

"Yang kita enggak sepakat adalah dia periksa urine. Perjanjian MoU (nota kesepahaman) kita dengan Bareskrim dulu adalah tertangkap barang," kata Ahok.

Ahok menyatakan muatan nota kesepahaman semacam itu juga dijalin dengan BNN. Yakni, penangkapan beserta barang bukti narkoba, bukan sekadar tes urine, sebagai dasar penutupan tempat hiburan malam.

"BNN juga sama, kalau cuma tes urine, enggak fair dong. Saya tanya, orang Pemda kalau dites urine bisa kena enggak? Kena banyak. Apa berarti seluruh Pemda harus ditutup? Wartawan kalau dites, mohon maaf ya, ada enggak oknum yang pakai? Bisa saja kena loh," protes Ahok.

Soal ini, Pemprov DKI sudah membalas surat dari BNN. Metode 'dua kali kedapatan ada narkoba maka ditutup' ini bertujuan agar pemilik diskotek merazia setiap pengunjung yang masuk, sebagaimana calon penumpang pesawat dirazia agar tak terjadi terorisme di pesawat, misalnya.

"Saya kira Pak Buwas salah satu polisi yang baik di BNN, aku kenal baik. Kita teman baik kok. Kami sudah balas ke BNN, saya sudah sampaikan, kalau cuma tes urine, enggak bisa. Kalau cuma tes urine ya agak kacau kalau begitu," tutur Ahok.

Maka semua tempat hiburan malam perlu merazia pengunjungnya sebelum pengunjung tersebut masuk ke lokasi. "Harapan saya semua orang dicegah masuk. Jadi waktu masuk digeledah dong," kata Ahok menunjuk penyelenggara tempat hiburan malam.

Sudah ada Diskotek Stadium dan Mille's yang ditutup Pemprov DKI gara-gara tempat tersebut dua kali menjadi tempat aktivitas penyalahgunaan narkoba. Ahok mengaku tak pandang bulu mempertimbangkan siapa pemilik diskotek, bila memang sudah dua kali kedapatan ada narkoba di tempat itu, maka tempat hiburan malam bakal ditutupnya.

"Stadium saja yang orang bilang paling hebat kita tutup. Mille's kita tutup. Sekarang enggak usah dibilang pemilik deh, Anda temukan narkoba dua kali, saya tutup kok. Sekarang mana?" tantang Ahok.
Disentil Buwas, Ahok Tantang BNN Berani 2 Kali Razia Diskotek Disentil Buwas, Ahok Tantang BNN Berani 2 Kali Razia Diskotek Reviewed by Amborsius Ambarita on 10/27/2016 12:19:00 PM Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.