Alasan Tak Panggil Ahok Klarifikasi, MUI: Dia Pasti Ngeles

Wakil Sekjen MUI Najamuddin Ramly
Wakil Sekjen MUI Najamuddin Ramly. (Istimewa)
Beritakepo.comJakarta - Saksi ahli Basuki Tjahja Purnama (Ahok), Hamkah Haq, menyayangkan sikap Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang langsung menuding Ahok melakukan penistaan Agama tanpa melakukan klarifikasi terlebih dahulu. Pihak MUI menyebut tidak perlu melakukan dialog dengan Ahok.

"Kami tidak memerlukan Ahok untuk memberikan konfirmasi karena pasti ngeles," ujar Wakil Sekjen MUI Nadjamuddin Ramly, Selasa (8/11/2016), seperti diberitakan Detikcom.

Polemik kata 'pakai' yang yang disebut oleh Hamkah Haq sebagai pangkal masalah kericuhan tafsir Surat Al Maidah 51 juga ditepis oleh pihak MUI. Menurutnya, ada tidaknya penggunaan kata 'pakai' dalam rekaman video Ahok itu tidak menghilangkan unsur penistaan yang dilakukan.

"Kata 'pakai' tidak mengurangi makna dari penistaan itu," kata Nadjamuddin.

Karena itu, lanjut Nadjamuddin, MUI melalui Kajian Hukum dan Perundang-undangan serta Komisi Pengkajian MUI mengeluarkan fatwa bahwa Ahok telah melakukan penistaan agama. MUI mendukung pelaksaaan gelar perkara secara terbuka untuk kasus Ahok.

"Ada upaya untuk membebaskan Ahok, kami berharap kepolisian berlaku profesional," ujarnya.

Sementara, Wakil Ketua MUI Pusat Zainut Tauhid mengatakan, dalam mekanisme penetapan fatwa MUI membentuk tim. Keanggotaannya terdiri dari komisi atau gabungan dari beberapa komisi, tergantung cakupan masalahnya.

Terkait kasus kontroversi pidato Ahok yang dianggap telah menistakan agama, lanjut Zainut, MUI telah membentuk tim yang keanggotaannya melibatkan banyak komisi. Masalah ini dinilai serius, sehingga banyak komisi yang dilibatkan.

"Tim telah bekerja sesuai dengan mekanisme dan prosedur yang telah ditetapkan," kata Zainut.

"Persoalan apakan harus mekakukan tabayyun (klarifikasi) kepada pihak terlapor itu tidak menjadi keharusan sepanjang data pendukungnya sudah cukup kuat. Beberapa putusan fatwa misalnya, fatwa tentang Gafatar, fatwa tentang Lia Eden, fatwa tentang Al Qiyadah al-Islamiyah dan masih banyak fatwa yang serupa yang lainnya, semua itu kami tidak memanggil terlapor. Jadi sudah ada yurisprudendinya. Dan oleh penegak hukum diakui kedudukannya," sambung Zainut memaparkan.

Zainut mengingatkan agar pihak-pihak lain sebaiknya tidak usah sibuk mengurusi rumah tangga MUI. Keputusan yang sudah menjadi ketetapan MUI harus dihormati.

"Secara hukum dan moral MUI siap mempertanggungjawabkan kepada umat dan negara," ucapnya.

Pada Selasa (11/10/2016), MUI mengeluarkan sikap keagamaan resminya terkait kasus dugaan penistaan agama Ahok. MUI menyatakan Ahok telah menistakan agama. Menurut MUI, menyatakan kandungan surat Al-Maidah ayat 51 yang berisi larangan menjadikan Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin adalah sebuah kebohongan, hukumnya haram dan termasuk penodaan terhadap Alquran.

Sebelumnya, Hamka Haq menyinggung putusan Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang langsung 'memvonis' Ahok bersalah melakukan penistaan agama. "Menurut saya tidak memenuhi syarat sebagai penistaan agama. Karena tidak langsung mengatakan dibohongi Alquran, tapi ada orang yang berbohong menggunakan Alquran," ujar Hamka Haq.

MUI menurut anggota DPR dari PDI Perjuangan ini seharusnya lebih dulu mendengarkan keterangan Ahok sebelum membuat sebuah keputusan terkait pelaporan Ahok. Permintaan keterangan dari banyak pihak penting agar keputusan yang diambil obyektif.

"Seharusnya Ahok dipanggil dulu, dimintai (keterangan), jangan sepihak. Tentu saya menyampaikan hal-hal yang saya ketahui. Seperti di ILC saya katakan bahwa ucapan Ahok tidak memenuhi syarat-syarat penistaan agama. Karena pertama tidak langsung dikatakan dibohongi Alquran, tapi banyak kan orang yang memakai Alquran untuk membohongi, Kanjeng Dimas kan, Gatot membohongi teman-temannya," papar Ketum Baitul Muslimin Indonesia ini
Alasan Tak Panggil Ahok Klarifikasi, MUI: Dia Pasti Ngeles Alasan Tak Panggil Ahok Klarifikasi, MUI: Dia Pasti Ngeles Reviewed by Amborsius Ambarita on 11/07/2016 07:06:00 PM Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.