Beredar Chat WA Choel Mallarangeng, SBY Donatur Demo 25 November?

Percakapan WA Choel Mallarangeng soal logistik 2511
Percakapan WA Choel Mallarangeng soal logistik 2511. (Istimewa)
Beritakepo.com. Sejak Rabu (17/11/2016) di sosial media, beredar screenshoot percakapan di WhatsApp (WA) atas nama Choel Mallarangeng yang menunjukkan bahwa aksi demonstrasi Bela Islam III, yang rencananya digelar pada 25 November (2511), didanai oleh SBY atau Susilo Bambang Yudhoyono.

Siapkah Choel? Ia adalah adik dari Andi Alifian dan Rizal Mallarangeng. Seperti kedua kakaknya, Choel juga terjun ke dunia politik. Bersama Rizal, Choel mendirikan Fox Indonesia, konsultan politik untuk korporasi, pemilihan kepala daerah dan pemilihan presiden, pada 14 Februari 2008. Fox memainkan peranan penting dalam membangun pencitraan SBY-Budiono. Mereka juga dipercaya menjadi konsultan politik putra bungsu SBY, Edhie Baskoro atau Ibas, yang sukses terpilih menjadi anggota DPR RI pada 2009.

Pada tahun 2011, nama pria bernama asli Zulkarnain Mallarangeng disebut sebagai salah satu penerima suap wisma atlet SEA Games, Palembang dengan terdakwa Muhammad Nazaruddin. Ia disebut menerima jatah dari total Rp20 miliar. Namun kedekatannya dengan SBY, membuatnya mampu berkelit dari kasus ini.

Choel juga tersandung kasus korupsi Pembangunan Pusat Pelatihan, Pendidikan dan Sekolah Olahraga Nasional (P3SON) di Hambalang, Bogor tahun anggaran 2010-2012 yang menjerat sang kakak, Andy yang saat itu menjabat Menpora. Choel disebut sebagai perantara pemberian USD 550 ribu dari mantan Pejabat Pembuat Komitmen Kemenpora Deddy Kusdinar kepada sang kakak.

Dalam kasus ini, Choel sebenarnya ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK pada 16 Desember 2015 dan sempat diperiksa sebagai tersangka pada 15 Januari lalu. Namun kasus ini terbengkalai dan tak maju-maju ke pengadilan. KPK beralasan tengah disibukkan dalam menuntaskan kasus lain seperti e-KTP dan kasus yang dikenakan OTT (Operasi Tangkap Tangan).

Choel juga disebut sebagai perantara atau penyalur dana dalam berbagai kasus korupsi yang melibatkan kader Demokrat. Jadi dapat disimpulkan Choel mempunyai 'hubungan istimewa' dengan Cikeas serta bagaiman jejak rekamnya dalam berbagai kasus korupsi.

Kembali ke soal WA. Isi WA ini sendiri tak diketahui kebenarannya, apakah editan (hoax) ataukah memang benar karena memang belum ada pernyataan dari Partai Demokrat atau respon SBY sendiri. Jika tak ada klarifikasi dari Cikeas, maka dapat disimpulkan manuver politik SBY akhir-akhir ini sungguh keterlaluan dan menghalalkan segala cara demi ambisi politik.

Dengan kata lain, persepsi publik soal dalang dan penggalang massa Anti-Ahok yang marak akhir-akhir ini adalah kubu Cikeas ternyata memang kenyataan.

Dalam chat WA tersebut tertulis: "logistik sdh tdk mungkin ditarik balik dan mrk jg tahu itu."

Tulisan di atas dapat diartikan dana telah dikirim kepada pihak yang akan melakukan demo 2511. Pihak tersebut mungkin saja penggerak atau pengumpul massa, koordinator lapangan (korlap) atau pendemo itu sendiri. Jadi, aksi unjuk rasa itu akan tetap terjadi walaupun sudah ada peringatan dari Kapolri Jenderal Pol. Tito Karnavian usai Bareskrim mengumumkan Basuki T Purnama atau Ahok jadi tersangka penistaan agama.

Jenderal bintang empat itu meminta semua pihak konsisten pada tuntutannya dan berharap tak turun ke jalan pada 25 November.

"Jadi kalau ada yang mau turun ke jalan lagi untuk apa? Jawabannya gampang. Kalau ada yang ngajak turun ke jalan lagi, apalagi membuat keresahan dan keributan, cuma satu saja jawabannya, agendanya bukan masalah Ahok. Agendanya adalah inkonstitusional, dan kita harus melawan itu karena negara ada langkah-langkah inkonstitusional," kata Tito.

"Demonya ini kalian lihat sendiri. Kalau itu terjadi, masyarakat bisa menilai sendiri. Karena masyarakat kita sekarang sudah pada pintar. Dan masyarakat tidak mudah dipengaruhi," ujar Tito.

Kata "mereka' dalam chat tersebut dapat diartikan pihak pemerintah. Salah satu tujuan penetapan Ahok sebagai tersangka adalah menampung tuntutan demo pada 4 November yang lalu sekaligus dapat memisahkan kelompok yang benar-benar menuntut atau menunggangi isu tersebut. Ini merupakan permainan cerdik Jokowi dengan menerapkan strategi Sun Tzu "memukul semak-semak agar ularnya keluar".

Layaknya permainan catur, pemerintah dan kubu SBY sudah bisa membaca arah lawan menerapkan langkahnya. Jadi tak heran pada chat selanjutnya, Choel mengajak pendukung dan tim sukses resmi AHY-Sylvi untuk berlaku santun dengan tak memberikan komentar yang mengejek atau mensyukuri status tersangka Ahok. Tapi tidak untuk relawan tak resmi cyber troops atau yang bermain kampanye hitam di belakang layar. Ya, seperti tindakan pencitraan yang dilakukan SBY selama presiden. Santun kelihatan di depan publik namun kita tak tahu apa yang diinstruksikannya dalam versi "off the record".
Instruksi Choel untuk pendukung AHY-Sylvi
Instruksi Choel untuk pendukung AHY-Sylvi. (Istimew)
Jokowi bukannya tinggal diam. Selain melakukan safari ke TNI-Polri, ia pun mengundang Prabowo Subianto ke Istana. Ia memberi tahu pihak Cikeas bahwa Prabowo tak mendukung rencana SBY sekaligus memberi tahu ke publik siapa dalang sesungguhnya. Dalam hal ini, dapat disimpulkan, langkah Jokowi selalu di depan SBY.

Keinginan SBY agar Ahok menjadi tersangka sepertinya bakal tak mewujudkan tujuan jangka pendek SBY agar Ahok keluar dari peta persaingan Pilgub DKI karena proses hukum untuk mencapai putusan tetap (inkracht) memakan waktu cukup lama. Sementara, pemungutan suara pada 15 Februari 2017 semakin dekat. 3 bulan lagi! SBY seperti dikejar-kejar waktu. Dalam jangka waktu ini, ia pasti pusing memikirkan bagaimana AHY bisa menjadi gubernur DKI. Ia tak mungkin lagi melakukan manuver tajam karena resikonya sangat berat. Bagaimanapun, lawannya adalah seorang presiden!

Jokowi sebenarnya sudah mempunyai kartu truf lain untuk menyerang balik SBY mulai kasus Century, Antasari Azhar, dokumen TPF Munir dan dugaan korupsi sang bungsu, Ibas. Kartu truf itu dengan mudah dikeluarkan seiring Ahok jadi tersangka sesuai tuntutan massa. Jangan ada intervensi dalam proses hukum. Alasan serupa sangat tepat digunakan untuk menembak sasaran.

Lalu apa sebaiknya dilakukan SBY dan kubu Cikeas?

Membatalkan semua agenda yang sudah direncanakan adalah langkah logis. SBY memang sudah berkorban dana selama aksi ini. Namun, jika ia memaksaan pertarungan dengan Jokowi yang dirugikan bukan rakyat saja namun SBY dan putranya, AHY.

Pencitraan SBY dan keluarganya yang sudah dibangunnya dengan baik selama ini akan terbongkar. Begitu juga kedok pencitraaan yang selama ini ia gunakan. Dan lebih mengenaskan, AHY pun terkena imbasnya. Persepsi publik pun akan buruk.

Layaknya bermain sepak bola, SBY sudah kalah duluan sebelum pertandingan dimulai. Mulai dari kualitas permainan, kejelian strategi pelatih maupun pendekatan permainan yang dilakukan. Yang diharapkannya adalah keberuntungan dan ke tberpihakan wasit dalam memimpin laga. Dan hal ini beresiko tinggi karena bisa membuat timnya kebobolan banyak gol.

Saran saya, SBY janganlah lakukan manuver politik yang mengerikan lagi. Sebaiknya fokuslah kepada pencitraan AHY. Bukankah anda menganggap sudah mendapat bonus Ahok menjadi tersangka sehingga elektablitas AHY mungkin meningkat?

Namun itu semua kembali ke diri SBY. Jika keadaan memaksa ditambah dengan syahwat atas kekuasaan sudah memuncak, anda terus memaksakan melakukan manuver. Harus ada di sekeliling Anda, termasuk orang terdekat, yang harus dikorbankan.

Efeknya, Anda tak hanya dicap bukan negarawan saja tetapi seorang 'sengkuni' dan perusak negeri ini karena rakyat Indonesia sudah belajar dari strategi pencitraan Anda selama 10 tahun. Mundurlah SBY sebelumnya semuanya menjadi rusak!
Beredar Chat WA Choel Mallarangeng, SBY Donatur Demo 25 November? Beredar Chat WA Choel Mallarangeng, SBY Donatur Demo 25 November? Reviewed by Amborsius Ambarita on 11/17/2016 01:01:00 PM Rating: 5

1 komentar:

  1. Tulisan yg mencerdaskan dan membuka wawasan, jika itu benar......
    Maka berlakulah pepatah :
    "Barangsiapa menabur angin, pasti akan menuai badai" !

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.