Mengenang Sutan Bhatoegana: 'Masuk Tuh Barang' dan 'Ngeri-ngeri Sedap'

Mantan anggota DPR, Sutan Bhatoegana
Mantan anggota DPR, Sutan Bhatoegana. (Liputan6.com)
Beritakepo.com. Politikus Partai Demokrat, Sutan Bhatoegana Siregar yang meningggal pada Sabtu (18/11/2016) pukul 08.00 WIB karena kanker hati, dikenal publik lewat ucapan nyentrik 'ngeri-ngeri sedap' dan 'masuk tuh barang'. Terlepas sosoknya yang kontroversial, pria kelahiran Pematangsiantar, 13 September 1957 ini terkenal sebagai 'penggembira' baik saat aktif sebagai anggota DPR maupun mendekam Lapas Sukamiskin.

Ada pula kebiasaan Sutan yaitu mengirim broadcast Tahajud Call setiap dini hari. Kalaupun dia terlewat tak mengirim Tahajud Call, maka dia akan mengirim broadcast message dengan tajuk Renungan Subuh. Isi pesan Tahajud Call yang dikirimkannya berupa hadis-hadis yang temanya beragam.

"TAHAJJUD CALL : Rasulullah Saw, bersabda,"Allah menguji hambaNya dgn menimpakan musibah sbgmn seorg menguji kemurnian emas dgn api (pembakaran). Ada hal yg ke luar emas murni. Itulah yg dilindungi Allah dari keragu-raguan. Ada juga kurang dari itu (mutunya) dan itulah yg selalu ragu. Ada yg ke luar spt emas hitam dan itu yg memang ditimpa fitnah (musibah)."(HR Athabrani)sb," demikian bunyi Tahajud Call dari Sutan, Senin (2/2/2015) silam pukul 02.22 WIB dini hari, seperti diberitakan Detikcom.

Soal kebiasaannya mengirim Tahajud Call ini, Sutan pernah menuturkan dia memiliki komunitas yang saling mengingatkan untuk melaksanakan salat Tahajud tiap malam. Cara mengingatkannya ya seperti itu, berkirim pesan yang berisi nasihat-nasihat religi.

Baca juga: Sakit Kanker Hati, Sutan Bhatoegana Meninggal Dunia

Sebelum ditahan, dia menjabat sebagai Ketua Komisi Komisi VI DPR. Sutan dibesarkan di Pematang Siantar. Setelah itu dia hijrah ke Medan untuk melanjutkan SMA dan hijrah ke beberapa kota di Indonesia seperti Yogyakarta dan Jakarta.

Sebelum masuk ke dunia politik, Sutan telah aktif di beberapa organisasi sejak masa muda. Sewaktu berkuliah di ATN Yogyakarta ia menjadi Kasie II Yon v Mahakarta ATN. Pengalaman lainnya antara lain Ketum Batak Islam Cilacap tahun 1990, dan Sekretaris ICMI ORSAT Cilacap tahun 1990.

Tahun 2001, Sutan mulai terjun ke partai politik. Ia membantu Vance Rumangkang mengumpulkan orang-orang untuk merealisasikan pembentukan sebuah partai politik yang diperkasai SBY. Sutan beberapa kali menduduki posisi penting di Partai Demokrat di antaranya Wakil Sekretaris Jenderal dan Ketua Departemen Perekonomian.

Dengan bendera Partai Demokrat Sutan terpilih menjadi Anggota DPR dua kali berturut-turut, yaitu pada pemilu legislatif 2004 (Dapil Bangka Belitung_ dan 2009 (Dapil Sumut I). Di DPR, Sutan dipilih menjadi Sekretaris Fraksi Partai Demokrat.

Setelah Rudi Rubiandini ditetapkan sebagai tersangka kasus suap SKK Migas, nama Sutan Bhatoegana semakin mencuat. Sutan dikabarkan meminta sejumlah uang kepada Rudi dengan alasan sebagai Tunjangan Hari Raya (THR).

Nama Sutan juga muncul dalam BAP Rudi dan berulang kali disebut di persidangan. Akhirnya pada 14 Mei 2014, Sutan resmi ditetapkan sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Pada 19 Agustus 2015, Sutan Bhatoegana divonis 10 tahun penjara dalam kasus gratifikasi dalam penetapan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) Kementerian ESDM di Komisi VII DPR RI oleh pengadilan Tindak Pidana Korupsi.

Pengadilan menyatakan Sutan terbukti menerima uang secara tidak langsung senilai US$ 140.000 dari Waryono Karno dan US$ 200.000 dari Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi Rudi Rubiandini serta bangunan seluas 1.194,38 meter persegi dari Saleh Abdul Malik selaku Komisaris PT Sam Mitra Mandiri.

Dalam Pengadilan Tipikor, Sutan menyebut bahwa Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) dan kawan-kawan yang menekan Rudi agar tak menyetujui proses penanganan proyek offshore oleh PT Timas Suplindo.

Akhirnya, Sutan terbukti bersalah melanggar Pasal 12 huruf a Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tipikor. Pengadilan Tipikor menghukum Sutan dengan pidana 10 tahun atau lebih rendah dari tuntutan jaksa, yaitu 11 tahun penjara.

Hukuman itu dikuatkan oleh Pengadilan Tinggi DKI Jakarta pada Desember 2015. Namun, hukumannya diperberat oleh Mahkamah Agung menjadi 12 tahun penjara.

Sutan mempunyai tiga anak, yakni Raja Hudrie Perlindungan, Ririe Meyla Shanty Kusuma Siregar, dan Putri Sheyla Ferbianty Puspita Siregar, buah pernikahan dengan Unung Rusyatie, wanita yang dikenalnya saat masih kuliah di Yogyakarta.

Selamat jalan bung Sutan!
Mengenang Sutan Bhatoegana: 'Masuk Tuh Barang' dan 'Ngeri-ngeri Sedap' Mengenang Sutan Bhatoegana: 'Masuk Tuh Barang' dan 'Ngeri-ngeri Sedap' Reviewed by Amborsius Ambarita on 11/18/2016 10:54:00 PM Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.