Soal Demo 2 Desember, Ini Perbedaan Arti Makar dan Kudeta

Jokowi meninjau pasukan baret hijau Kostrad
Jokowi meninjau pasukan baret hijau Kostrad. (Liputan6.com)
Beritakepo.com. Kata makar dan kudeta kini menjadi perbincangan publik terkait rencana demonstrasi 2 Desember mendatang yang didengungkan GNPF MUI. Kapolri Jenderal Tito Karnavian dan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo menengarai ada rencana makar di balik demonstrasi.

Pendapat berbeda datang dari Menteri Pertahanan (Menhan), Ryamizard Ryacudu yang menyebut aksi tersebut bukanlah mengarah ke makar tetapi adu domba. Sementara, Wakapolri Komjen Syafrudin menyebut potensi makar belum kuat.

Terlepas adanya beda pendapat soal dugaan makar pada aksi 2 Desember di antara institusi penegak hukum. Ada baiknya kita mengetahui definisi dan arti makar.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), makar punya beberapa arti. Salah satunya adalah perbuatan (usaha) menjatuhkan pemerintah yang sah. Sedangkan kudeta berarti perebutan kekuasaan (pemerintahan) dengan paksa.

Sementara, dalam Wikipedia dijelaskan bahwa kudeta adalah sebuah tindakan pembalikan kekuasaan terhadap seseorang yang berwenang dengan cara illegal dan sering kali bersifat brutal, inkonstitusional berupa "penggambilalihan kekuasaan", "penggulingan kekuasaan" sebuah pemerintahan negara dengan menyerang (strategis, taktis, politis) legitimasi pemerintahan kemudian bermaksud untuk menerima penyerahan kekuasaan dari pemerintahan yang digulingkan. Pada dasarnya kudeta adalah sebuah perbuatan pidana namun perbuatan pidana akan lenyap apabila kudeta sukses karena adanya legitimasi politik dari rakyat dan militer.

Definisi makar ternyata juga ada di Kitab Undang-undang Hukum Pidana sebagai kejahatan terhadap keamanan negara, pada Pasal 104, 107 dan 108. Hukumannya adalah hukuman mati. Berikut bunyi tiap-tiap Pasal:

Bunyi pasal 104: Makar dengan maksud untuk membunuh, atau merampas kemerdekaan, atau meniadakan kemampuan Presiden atau Wakil Presiden memerintah, diancam dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara sementara paling lama dua puluh tahun.

Bunyi pasal 107:
(1) Makar dengan maksud untuk menggulingkan pemerintah, diancam dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun.

(2) Para pemimpin dan pengatur makar tersebut dalam ayat 1, diancam dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara sementara paling lama dua puluh tahun.

Pasal 108

(1) Barang siapa bersalah karena pemberontakan, diancam dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun:

1. orang yang melawan pemerintah Indonesia dengan senjata;

2. orang yang dengan maksud melawan Pemerintah Indonesia menyerbu bersama-sama atau menggabungkan diri pada gerombolan yang melawan Pemerintah dengan senjata.

(2) Para pemimpin dan para pengatur pemberontakan diancam dengan penjara seumur hidup atau pidana penjara sementara paling lama dua puluh tahun.

Menurut situs Hukum Online, perbedaan makar dan kudeta kurang lebih sebagai berikut: secara umum, kudeta lebih merujuk pada istilah politik sementara makar merujuk pada istilah hukum. Rumusan delik soal makar adalah penggantian pemerintahan dengan cara yang tidak sah yang tidak berdasarkan saluran yang ditetapkan dalam ndang-undang.

Oleh Karena itu, tindak pidana makar baru dapat dikenakan apabila memenuhi syarat yang diatur dalam Pasal 87 KUHP. Pasal 87 KUHP menegaskan bahwa tindak pidana makar baru dianggap terjadi apabila telah dimulainya perbuatan-perbuatan pelaksanaan dari si pembuat makar.

Nah, jika kabar terakhir menyebutkan GNPF MUI barulah sebatas rencana untuk mengadakan demonstrasi. Untuk itu, rumusan dan syarat delik ini tidak dapat terpenuhi.
Soal Demo 2 Desember, Ini Perbedaan Arti Makar dan Kudeta Soal Demo 2 Desember, Ini Perbedaan Arti Makar dan Kudeta Reviewed by Amborsius Ambarita on 11/23/2016 11:04:00 AM Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.