Bertemu SBY, Taktik Jokowi Naikkan Elektablitas Ahok-Djarot

Jokowi dan SBY menikmati teh di beranda Istana Merdeka
Jokowi dan SBY menikmati teh di beranda Istana Merdeka. (Setneg)
Beritakepo.com. Pertemuan Presiden Joko Widodo dengan Ketum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) terjadi di Istana Negara tadi siang. Ini merupakan pembuktian janji Jokowi akan bertemu dengan SBY usai Pilkada serentak yang berlangsung pada 15 Februari 2017 yang lalu.

SBY memang selama ini terkesan 'merengek-rengek' minta Jokowi menerimanya di Istana seperti yang dilakukan Jokowi terhadap Prabowo dan mantan presiden lainnya. SBY malah ingin bertemu saat masa kampanye putaran pertama dengan asumsi nama besarnya dipulihkan akibat dicap sebagai 'provokator' dan 'donatur' aksi demo anti Ahok selama ini sekaligus dapat menaikkan elektabiltas sang putra, Agus Harimurti Yudhoyono di Pilgub DKI.

Namun Jokowi menunda pertemuan tersebut yang mengakibatkan SBY kerap 'curhat' di Twitter. Setelah Agus-Sylvi menderita kekalahan, Jokowi lalu setuju menerima permintaan kubu Cikeas untuk bertemu. Tentu saja ada alasan Mantan Wali Kota Solo ini memilih waktu pertemuan saat kampanye putaran kedua Pilgub DKI baru saja dimulai. Jokowi memang ingin menaikkan elektablitas Ahok-Djarot dengan cara mengarahkan sekitar 17 persen suara pemilih Agus-Sylvi ke paslon nomor dua tersebut.

Jokowi tentu saja paham Pilgub DKI merupakan miniatur menggambarkan peta kekuatan politik di Tanah Air. Dengan 'menempatkan' orangnya di posisi DKI 1, tentu lebih mudah bagi Jokowi untuk mengamankan Pilpres 2019. Ahok dan Jokowi merupakan sepaket. Kedua seiya-sekata dalam tindakan. Bisa anda bayangkan jika Anies menjadi gubernur dan Prabowo akan mudah mengklaim kesuksesan Anies adalah kesuksesan Prabowo. Belum lagi jika kebijakan pemerintahan pusat dan pemprov DKI tak sinkron maka yang akan ditimbulkan hanyalah kegaduhan politik yang bisa menjadi isu nasional. Tak ada lagi kerja. Energi pun terkuras untuk isu politik.

Jokowi menyadari dirinya merupakan presiden, yang harus tetap terlihat tak berpihak pada salah satu paslon di Pilgub DKI. Ia tentu saja tak bisa mengikuti langkah Prabowo yang menyebut "jika anda ingin Prabowo maju Pilpres 2019, coblos Anies". Taktik yang aman dan jitu adalah mendekati musuh dari musuh kubu Anies yakni SBY. Jadi tak usah heran, beberapa hari lagi akan terjadi pertemuan antara Ahok dan Agus.

Lalu mengapa SBY mau 'mendukung' Ahok-Djarot? Tentu saja, SBY pasti memikirkan untung-rugi jika dihadapkan antara dua pilihan, Ahok atau Anies. Pilihan pertama menjadi pilihan rasional untuk SBY karena Jokowi adalah presiden yang lebih bisa menawarkan deal atau kompensasi dibandingkan dengan Prabowo. Semua juga pasti mengetahui SBY kini sedang dihantam oleh isu hukum yang sangat serius. Salah satu soal kasus dugaan kriminalisasi terhadap mantan Ketua KPK, Antasari Azhar. Belum lagi isu korupsi Hambalang, e-KTP dan lainnya.

Lagipula, kubu SBY kini merasa Anies-Sandi telah mencuri suara Agus yang dengan susah dibangun namun di saat terakhir berpindah ke paslon nomor tiga tersebut.

Tapi yang perlu diingat adalah Jokowi merupakan seorang sosok yang koppig atau keras kepala. Ia tak mau dikendalikan oleh siapa pun termasuk dari partainya (baca: Megawati Soekarnoputri) jika terkait hal yang sangat prinsipal bagi Jokowi. Tentu saja Jokowi akan menawarkan 'deal' yang tak mau harus diterima SBY. Apakah tawaran tersebut? Ingat, SBY merupakan sosok yang menganggap politik itu panggung pribadi. Jadi tawaran ini tentu saja berkaitan dengan anggota keluarganya.
Bertemu SBY, Taktik Jokowi Naikkan Elektablitas Ahok-Djarot Bertemu SBY, Taktik Jokowi Naikkan Elektablitas Ahok-Djarot Reviewed by Amborsius Ambarita on 3/09/2017 08:00:00 AM Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.