Official Candy's Group dan Ancaman Predator Anak di Medsos

Pengelola Official Candys Group di FB diamankan polisi
Pengelola Official Candys Group di FB diamankan polisi. (Detikcom)
Beritakepo.com. Jakarta - Banyaknya kasus pelecehan seksual terhadap anak-anak atau paedofilia menjadi sorotan sejak beberapa tahun terakhir. Ternyata kondisi darurat ancaman predator anak itu kini malah merambah sampai media sosial atau medsos.

Selasa (14/3) kemarin, Polda Metro Jaya mengungkap keberadaan grup media sosial Facebook dan pesan instan WhatsApp yang berisi pornografi anak. Jumlah anggota grup ini mencapai 7.479 orang yang berasal dari berbagai negara, termasuk Indonesia.

Setelah melakukan penelusuran, polisi menetapkan empat orang pengelola grup ini sebagai tersangka dan kemudian ditangkap. Keempatnya adalah WW (27), DS (24), DF (17) dan SHDW (16).

Kapolda Metro Irjen M Iriawan mengatakan grup para konten pornografi anak itu diberi nama Official Candy's Group. Anggota grup secara aktif membagikan konten berisi pornografi kepada anak.

"Mereka membagikan link yang memuat gambar atau video pornografi anak dalam grup Facebook dan WhatsApp," kata Iriawan di Polda Metro Jaya, Jakarta, kemarin, seperti diberitakan Detikcom.

Iriawan mengatakan ada ketentuan di dalam grup itu di mana anggota harus aktif membagi dan menyebarkan konten pornografi anak. Jika tidak, pengelola akan mendepak anggota yang pasif itu dari grup.

Kekerasan Seksual

Tak hanya membagikan gambar porno, ada juga anggota grup yang melakukan kekerasan seksual terhadap anak-anak. Dua dari empat pelaku pernah melakukan kekerasan seksual.

Dua pelaku itu yakni tersangka MBU (25) alis Wawan alias Snorlax dan DF alis T-Day (17). Di antara beberapa korban, ada yang masih keluarga kedua pelaku.

"TD ini melakukan kejahatan terhadap 6 anak kecil di mana anak berusia 6 tahun, 4, 5, 3, dan 11 tahun pada tahun 2011. Dua orang adalah keponakannya sendiri, sisanya adalah tetangganya," ujar Iriawan.

Tersangka TD merekam adegan ketika melakukan kekerasan seksual terhadap korban berusia 2 tahun. Dia kemudian meng-upload video tersebut ke grup Facebook tersebut sebagai bukti dia telah melakukan kekerasan terhadap anak di bawah umur.

"Dia kirim (video) pakai tulisan di tangan kepada si A di Nikaragua (bahwa) dia lakukan kejahatan seksual, dikirim nanti gambarnya kepada si A di Nikaragua atau Amerika Latin. Ini contoh anak kecil dia kirim, nanti si yang ditunjuk ini mengirim lagi gambar kepada pelaku si TD tadi," papar Iriawan.

Tersangka Wawan juga melakukan hal yang sama. Dia mengaku telah melakukan kekerasan seksual terhadap 6 bocah perempuan, namun yang baru teridentifikasi baru dua korban.

Berdasarkan penelusuran polisi, dari ribuan anggota grup, banyak yang berasal dari luar negeri. Karena itu, Polda Metro Jaya berencana menggandeng Biro Federal Investigasi Amerika Serikat (FBI) untuk mengembangkan kasus ini.

Candy's Group itu saat ini sudah diblokir. Akan tetapi penyidik menduga masih ada grup-grup sejenis yang masih aktif. Karena itu polisi akan terus menelusuri keberadaannya grup-grup tersebut.

Mantan Kapolda Jawa Barat ini juga menuturkan, pihaknya akan berkomunikasi dengan Kementerian Perlindungan Perempuan dan Anak serta Komnas Anak untuk melakukan rehabilitasi dan konseling terhadap para korban yang rata-rata berusia 2-10 tahun.

"Tentunya bagi korban yang ada itu pasti trauma. Oleh sebab itu, kami menggandeng kawan dari Kementerian PPA dan Komnas Anak untuk bisa menindaklanjuti," ujarnya.

Kak Seto Terkejut

Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia Seto Mulyadi tercengang begitu mengetahui adanya kasus kejahatan seksual terhadap anak dan pornografi yang dikelola melalui Official Candys Group di Facebook.

"Saya kira cukup terkejut, ini anak masih usia remaja, masih SD, sudah berhubungan seks, dan salah satu tadi mengaku pernah jadi korban pelecehan seksual," kata Kak Seto di Polda Metro Jaya, Selasa (14/3/2017), seperti diberitakan suara.com.

Atas kejadian itu, Kak Seto mengingatkan tentang pentingnya perhatian lebih kepada anak-anak karena mereka sangat rentan menjadi korban predator seksual.

"Kadang-kadang kita abai kepada anak yang perlu perhatian. Kita lupa kepada anak-anak yang butuh perhatian. Di banyak tempat. Mudah terungkap menengah ke bawah," kata dia.

Kak Seto mengatakan umumnya orangtua hanya berpikir dari perspektifnya saja, misalnya menuntut anak agar bisa sekolah tinggi. Tapi mereka sering lupa melihat anak dari sudut pandang anak.

Akibat terlalu banyak mendapatkan tuntutan, anak depresi, lalu melampiaskan emosi kepada hal-hal yang bersifat menyimpang.

"Jadi cukup banyak anak-anak remaja banyak frustasi. Kami hanya tekan pada aspek satu saja, akademik. Kami lupa dengan hobi perasaan mereka, lupa sehingga akhirnya mereka cenderung melakukan penyimpangan. Apa itu narkoba, tawuran, seks bebas. Jadi ini soal hal yang sering terjadi di masyarakat yang belum terungkap," kata dia.

Kak Seto kemudian menjelaskan faktor lain yang bisa mengakibatkan anak-anak terjerumus melakukan kejahatan.

"Jadi cukup banyak terjadi dari masyarakat kita. Anak-anak peniru yang terbaik, korban lingkungan, kalau lingkungan banyak penelantaran, banyak perilaku menyimpang," kata dia.

Itu sebabnya, Kak Seto mengingatkan pentingnya peran orangtua dan masyarakat melindungi anak-anak.

"Melindungi anak, perlu warga sekampung. Maka warga terlibat untuk mengawasi," kata dia.
Official Candy's Group dan Ancaman Predator Anak di Medsos Official Candy's Group dan Ancaman Predator Anak di Medsos Reviewed by Amborsius Ambarita on 3/14/2017 09:05:00 PM Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.