Kiprah Novel Baswedan Membongkar Kasus Korupsi Besar

Novel Baswedan saat dijenguk Ketua KPK dan Kapolda Metro Jaya
Novel Baswedan saat dijenguk Ketua KPK dan Kapolda Metro Jaya. (Kumparan.com)
Beritakepo.com. Teror penyiraman air keras terhadap penyidik senior KPK, Novel Baswedan terjadi di tengah peran krusialnya dalam pemberantasan korupsi. Mantan perwira Polri berpangkat komisaris polisi ini merupakan salah satu penyidik bersinar yang memegang banyak kasus besar di KPK sejak pertama berkiprah.

Novel merupakan lulusan Akademi Kepolisian pada tahun 1998 dan kemudian mengawali karier di Polri. Novel bertugas di Bengkulu hingga tahun 2004 dengan jabatan terakhir sebagai Kasat Reskrim Polres Bengkulu.

Dia lalu ditarik ke Bareskrim Mabes Polri dan ditugaskan sebagai penyidik di KPK pada tahun 2007. Sejak saat itu, dia berkali-kali mendapatkan 'serangan' imbas pekerjaannya sebagai penyidik KPK.

Pertama kali nama Novel dibicarakan terjadi pada Oktober 2012. Malam itu, sejumlah anggota Polri mendatangi gedung KPK untuk menjemput Novel, yang belakangan diketahui sudah ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan penembakan terhadap pencuri sarang burung walet di Lampung pada 2004.

Penetapan tersangka itu dilakukan tak lama setelah Novel memimpin penggeledahan di Korlantas Polri. Novel kala itu merupakan Kepala Satgas kasus simulator SIM yang menjerat Irjen Djoko Susilo, yang saat itu menjabat Kakorlantas. Novel membantah memerintahkan penembakan terhadap pencuri sarang burung walet.

Pada Februari 2016, Novel terbebas dari kasus pidana yang menjeratnya lantaran tidak cukup bukti. Kejaksaan Agung menerbitkan surat keputusan penghentian penuntutan (SKPP) atas dugaan menganiaya seorang pencuri sarang burung walet hingga tewas pada 2004.

Baca juga: Kronologi Novel Baswedan Disiram Air Keras Usai Salat Subuh

Setelah sejumlah serangan dari pihak eksternal, Novel juga berurusan dengan pihak internal KPK. Novel, yang merupakan kepala wadah pegawai KPK, mendapatkan surat peringatan (SP) 2 dari pimpinan KPK karena dianggap menghambat penyidikan. Pada akhirnya, SP 2 terhadap Novel dicabut oleh pimpinan KPK.

Novel tetap memegang kasus-kasus besar hingga sekarang. Salah satunya adalah kasus korupsi e-KTP di mana dia disebut menekan saksi mantan anggota Komisi II DPR Miryam S Haryani. Novel membantah melakukan penekanan dan sudah dikonfrontir di pengadilan.

"Beliau disuruh oleh pihak yang dikatakan adalah anggota Komisi III DPR untuk tidak mengakui fakta menerima dan membagi-bagi uang. Yang bersangkutan dikatakan kalau sampai mengaku, nanti dijebloskan," ujar Novel Baswedan di hadapan Majelis Hakim, Kamis 30 Maret 2017.

Novel mengatakan, sempat meminta agar Miryam mengembalikan uang yang diterima dari pengadaan e-KTP, yang berujung korupsi e-KTP. Permintaan itu disampaikan kepada Miryam lantaran politikus Partai Hanura itu sempat mengakui menerima uang.

Baca juga: Pernah Ditabrak Lari, Novel Baswedan Sering Alami Teror dan Intimidasi

"Saya beritahu terkait uang yang diterima, untuk semakin memperjelas sikap kooperatif dan kewajiban sebaiknya dikembalikan," ujar Novel saat bersaksi dalam persidangan perkara korupsi e-KTP di Pengadilan Tipikor Jakarta, Kamis (30/3/2017).


Permintaan tersebut Novel sampaikan pada saat pemeriksaan terakhir Miryam, 24 Januari 2017. Menurut Novel, saat itu Miryam enggan mengembalikan karena mendapat ancaman dari rekan-rekannya sesama anggota DPR.

"Yang bersangkutan (Miryam) bilang 'kalau dikembalikan habis saya sama kawan-kawan saya di DPR'," kata Novel menirukan pernyataan Miryam.

Novel Baswedan mengatakan, ada enam orang yang diduga menekan Miryam S Haryani agar tidak mengakui fakta menerima uang proyek e-KTP. "Ada enam, pertama Bambang Soesatyo, Aziz Syamsudin, Desmond J Mahesa, Masinton Pasaribu, Syarifudin Suding. Satu lagi saya lupa namanya," kata Novel.
Kiprah Novel Baswedan Membongkar Kasus Korupsi Besar Kiprah Novel Baswedan Membongkar Kasus Korupsi Besar Reviewed by Amborsius Ambarita on 4/10/2017 09:52:00 PM Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.