Perwakilan Komunitas di Debat DKI Ternyata Pendukung Anies-Sandi

Iwan Carmidi, perwakilan komunitas nelayan
Iwan Carmidi, perwakilan komunitas nelayan. (Istimewa)
Beritakepo.com. Dalam debat final di Hotel Bidakara, Jalan Gatot Subroto,Jakarta Selatan, Rabu (12/4) malam tadi, ada sesuatu yang baru. Dari enam segmen akan ada tiga segmen yang disiapkan untuk memfasilitasi penyampaian aspirasi komunitas yang berasal dari UMKM, transportasi, pemukiman rumah susun, nelayan, serta pendidikan dan disabilitas.

Sebelumnya, Komisioner KPU Provinsi DKI Jakarta, Betty Epsilon Idroos mengatakan, pihaknya melibatkan semua komunitas tersebut akan bersifat netral dan bukan dari salah satu pasangan calon gubernur-wakil gubernur.

"Dimintai komitmennya untuk netral dengan mengisi pakta integritas dan bukan bagian dari salah satu pasangan calon," ujar Betty di Hotel Bidakara, Pancoran, Jakarta, Rabu (12/4).

Hal senada juga dikatakan Ketua KPU DKI Jakarta, Sumarno yang menyebut bila komunitas tersebut dipilih oleh para panelis.

"Para akademisi yang sering melakukan peneltian dan kemudian pendampingan masyarakat, kan gitu ya. KPU hanya berpesan bahwa masyarakat yang dipilih adalah masyarakat yang betul-betul netral tidak berafiliasi kepada salah satu paslon, pertanyaanya juga tidak memojokan atau menyudukan calon tertentu," ucap Sumarno.

Namun pada fakta yang terjadi saat debat, para komunitas tersebut bertanya soal isu yang sering digunakan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno untuk menyerang Ahok-Djarot terutama soal rusun, transportasi dan isu reklamasi. Pertanyaan ini seakan-akan sebuah umpan untuk Anies-Sandi untuk menyerang kebijakan petahana. Ini sangat tendensius.

Indikasi lain yang membuat kita kecurigaan adanya keterkaitan pihak paslon nomor urut tiga dengan komunitas itu adalah saat jeda iklan acara tersebut, Sandiaga Uno turun dari panggung dan menghampiri para nelayan yang tergabung dalam komunitas nelayan. Kemudian, Sandiaga menyalami dan memeluk salah satu nelayan tersebut. Pelukan itu mendapatkan sambutan senyum nelayan tersebut.

Saat dikonfirmasi terkait hal ini, Sandiaga mengaku mengenal para warga yang menjadi perwakilan terpilih tersebut. Politisi Partai Gerindra ini pun mengaku kenal dengan warga tersebut.

"Kenal semua, saya sudah 18 bukan mengitari kampung nelayan ini ya jadi ya saya kenal," kata Sandiaga seusai acara.

Sementara, Sumarno menganggap bila aksi Sandi menyalami anggota komunitas adalah hal yang biasa. "Biasa, artinya ini kan persoalan keseharian mereka yang dihadapi tidak mengada-ngada dan real yang dihadapi soal perumahan transportasi soal nelayan dan reklamasi," jelas Soemarno.

Benarkah demikian?

Usut punya usut, setidaknya ada tiga perwakilan komunitas tersebut yang terindikasi pendukung Anies Baswedan dan Sandiaga Uno. Dari rekam jejak digital yang dapat anda telusuri di Internet, ketiganya merupakan pembenci Ahok. Berikut buktinya.

1. Iwan Carmidi dari Komunitas Nelayan

Saat debat Iwan Carmidi menyebutkan bahwa komunitas nelayan sudah tinggal di pantai Jakarta turun temurun. Berangkat dari fakta ini, ia bertanya apakah keberadaan mereka diakui pemerintah atau tidak.

"Apa kebijakan pemerintah DKI Jakarta ke depan? Program reklamasi dan kesejahteraan nelayan bagaimana?" tanyanya.

Pertanyaan ini memang sangat memojokkan Ahok karena menggiring opini seakan-akan reklamasi di Teluk Jakarta membuat kehidupan nelayan menderita.

Dari jejak digital, kita dapat menemukan benang merah keterkaitan Iwan dengan tim Anies-Sandi. Dilansir Okezone, Iwan adalah Ketua Komunitas Nelayan Tradisional (KNT) yang gencar menolak adanya reklamasi. Iwan juga secara terang-terangan menyatakan dukungannya terhadap Anies-Sandi.

2. Daryono dari Komunitas Transportasi

Saat debat, Daryono, mengatakan bahwa saat ini masih banyak warga yang penghasilannya di bawah upah minimum provinsi (UMP).

"Katanya ada yang merencanakan tarif Rp 5.000 untuk semua angkutan gadungan. Terus tarif transjakarta Rp 3.500. Sementara online banyak menawarkan bonus potongan. Apakah dimungkinkan tarif yang lebih murah digratiskan untuk membantu warga yang kurang mampu agar tertarik naik angkutan umum?" kata Daryono.

Dari jejak digital, Daryono merupakan pendukung Anies-Sandi. Ia pernah menghadiri acara kampanye Anies di Typology Cafe, Jakarta Selatan, Rabu (1/2/2017).

3. Sukarto dari Komunitas Rusun

Saat debat, Sukarto, yang mengaku penghuni rumah susun sewa (rusunawa) Jatinegara mengaku resah dengan unit rusun yang dihuninya. Sejak digusur dari pinggir kali, ia justru hidup menderita. Rusun yang ditempatinya rusak dan bocor. Padahal setiap bulan ia harus membayar.

"Apa bapak tega dengan kondisi kami ini?" kata Sukarto.

Dari jejak digital, Karto merupakan mantan Ketua RT 07, RW 09, Kelurahan Kampung Melayu, Kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur yang direkokasi ke rusunawa Jatinegara Barat. Dilansir CNN Indonesia, Karto menyebut dirinya masih memendam kesumat atas keputusan Ahok tentang Kampung Pulo. "Dia enggak memikirkan rakyat. Saya ini korban penggusuran. Ahok itu arogan," ucapnya.


Dari fakta di atas, patut dipertanyakan netralitas KPU sebagai penyelanggara debat ini. Apalagi, moderator debat Ira Koesno sudah mengatakan bahwa pertanyaannya diundi dan perwakilan pun tidak mengetahui pertanyaannya.

Sementara, pengamat politik Yunarto Wijaya menilai adanya pertanyaan yang diajukan oleh komunitas tampak seperti settingan. Hal ini dikatakannya dalam acara setelah debat di Metro TV karena melihat seorang perwakilan komunitas terbata-bata saat bertanya seperti lupa akan hapalannya. Simak videonya.


Jadi masihkan kita percaya dengan Ketua KPU DKI Jakarta Sumarno?
Perwakilan Komunitas di Debat DKI Ternyata Pendukung Anies-Sandi Perwakilan Komunitas di Debat DKI Ternyata Pendukung Anies-Sandi Reviewed by Amborsius Ambarita on 4/12/2017 01:04:00 PM Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.