2 Versi Cerita Penangkapan Untung di Tegal Saat Melarikan Diri

Penangkapan Letkol Untung
Penangkapan Letkol Untung. (Istimewa)
Beritakepo.com. Sejarawan Pantura, Wijanarto, mengungkapkan dua versi seputar penangkapan Letkol Untung Sutopo, Komandan Batalyon I Tjakrabirawa, yang disebut-sebut sebagai otak penculikan dan pembunuhan 6 jenderal dan seorang perwira pertama TNI AD dalam peristiwa G30S tahun 1965.

Untung ditangkap pertama kali di Kemandungan, Tegal pada 11 Oktober 1965. Dia ditangkap setelah melompat dari bus 'Mudjur' yang membawanya dari Jakarta. Bus melaju kencang saat itu, namun Untung memilih melompat karena takut melihat ada pemeriksaan penumpang oleh petugas tentara. Untung bergegas lari hingga diteriaki copet.

Saat melompat dari bus, Untung tak lagi dilindungi peruntungan. Rupanya tepat di depan pintu bus ada tiang listrik. Untung menabrak tiang itu, mata kirinya terbentur tiang hingga membengkak. Setelah ditangkap di Kemandungan, untung dibawa ke kantor desa. Selanjtnya dia dibawa ke kantor Corp Polisi Militer (CPM) Tegal.

"Cerita berbeda mengatakan, setelah diinterogasi oleh Lurah Kemandungan, Untung sempat dilepaskan. Damiri, pendamping Untung selama pelarian, sempat mempengaruhi lurah agar Untung segera dilepaskan karena tidak ada bukti," papar Wijanarto, Minggu (1/10/2017).

Usai dilepas dari kantor desa, Untung berjalan kaki menuju Jalan Asem Tiga, di Randugunting, Tegal. Di perkampungan itu Untung memasuki salah satu rumah warga. Tujuannya adalah untuk meminta obat guna mengobati luka di mata kirinya yang terbentur tiang listrik saat melompat dari bus.

Namun di kampung itulah Untung kembali ditangkap. Penangkapan dilakukan oleh warga. Dia dicurigasi sebagai pencuri. Untung diperiksa warga dan selanjutnya dibawa ke Kantor Corp Polisi Militer (CPM) Tegal, sekarang menjadi Subdenpom Tegal.

Menurut Wijanarto, untuk memastikan identitasnya, Untung menjalani pemeriksaan cukup lama di kantor CPM Tegal. Di kantor CPM, Untung diperiksa selama beberapa lama, untuk memastikan identitasnya. Komandan CPM Tegal waktu itu, Kapten M Isa, kemudian menghubungi Kolonel AJ Witono, yang saat menjabat sebagai Danrem Cirebon.

Rupanya Isa punya pertimbangan khusus melakukan kontak dengan Witono. Jika mengacu pada teritorial, seharusnya Isa melaporkan penangkapan Untung itu ke pimpinan tentara Jawa Tengah, karena Tegal berada di Jawa Tengah. Sedangkan Cirebon berada di Jawa Barat.

"Pihak CPM Tegal, Kapten M Isa, melaporkan ke Cirebon bukan ke Jawa Tengah karena pertimbangan bahwa wilayah Jawa Tengah saat itu merupakan basis merah. Dari Cirebon, Untung dibawa ke Jakarta," papar Wijanarto.

Sesampainya di Cirebon, Untung diterima langsung oleh Witono. Pertemuan Witono dengan Untung di Markas Korem Cirebon ini telah banyak diungkap oleh beberapa penulis sejarah. Ada kejadian dan dialog menarik antarkedua perwira menengah TNI AD tersebut, karena sebelumnya sudah saling mengenal.

Kepada Witono, Untung bertanya : Bagaimana Pak, jadi pergi ke Jakarta ?

Witono : Gila Lu, kalau kadi kan udah lu habisin !

(Untung tidak menjawab, hanya menundukkan kepala)

Witono : Terima kasih, dulu waktu kendaraan saya tabrakan di Semarang, telah kau tolong.

Untung : Bagaimana, radiatornya sudah baik ?

Witono : Sudahlah, kau belum makan sehari. Makanlah dulu.
Kolonel Witono saat berdialog dengan Untung
Kolonel Witono saat berdialog dengan Untung. (Istimewa)
Dialog itu ada latar belakangnya. Beberapa hari sebelum G30S/PKI, Witono bertemu dengan Untung di Bandung, pada upacara penganugerahan Sam Karya Nugraha kepada Kodam VI Siliwangi.

Dalam pertemuan ini Kolonel Witono mengatakan kepada Untung, bahwa pada tanggal 1 Oktober ia akan ke Jakarta untuk mencari film yang akan diputar pada perayaan hari ABRI 5 Oktober. Sebagai reaksinya, Untung menawari Witono untuk menginap di mess “Cakrabirawa”.

Tetapi perjalanan ke Jakarta itu batal, meskipun Kolonel Witono sudah berangkat ke Bandung tanggal 30 September 1965. Soalnya ketika dari Bandung, Witono menelpon kepada perwira yang mengurus film di Jakarta, ia mengetahui bahwa orang yang bersangkutan tidak ada. Maka kembalilah Witono ke Cirebon. Dan dari siaran-siaran radio Jakarta, tahulah ia seketika, bahwa PKI-lah yang berperan dalam “Gerakan 30 September”.

Baca juga: Rekam Jejak Letkol Untung: dari PKI Madiun ke G30S/PKI

Mengenai soal mobil yang juga disinggung dalam dialog, peristiwanya sudah terjadi kurang lebih dua tahun sebelumnya, ketika Untung masih bertugas di Semarang. Mobil Kolonel Witono yang ditumpangi saudaranya mendapat kecelakaan, sehingga tidak bisa jalan. Kebetulan peristiwa ini terjadi tidak jauh dari markas Untung. Dan dialah akhirnya yang memberikan bantuan.

Dari Cirebon, Untung kemudian dibawa ke Jakarta. Untung selanjutnya menghadapi peradilan militer atas tuduhan mengotaki penculikan dan pembunuhan enam perwira tinggi dan seorang perwira menengah TNI AD. Tahun 1966, Mahmilub menvonis Untung bersalah dan selanjutnya dia menjalani eksekusi mati di Cimahi, Jawa Barat.

Beberapa hari sebelum meletusnya peristiwa G30S, Witono dan Untung bahkan sempat bertemu dalam sebuah acara di Bandung. Saat itu Witono menyampaikan keinginannya akan ke Jakarta pada 1 Oktober 1965 untuk mencari film guna memeriahkan peringatan Hari ABRI pada 5 Oktober.
2 Versi Cerita Penangkapan Untung di Tegal Saat Melarikan Diri 2 Versi Cerita Penangkapan Untung di Tegal Saat Melarikan Diri Reviewed by Amborsius Ambarita on 10/01/2017 12:17:00 AM Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.