Bisnis dan Karir Politik Novanto Meroket Berkat Keluarga Cendana

Setya Novanto menyerahkan buku Manajemen Soeharto kepada Presiden Soeharto di Cendana
Setya Novanto menyerahkan buku Manajemen Soeharto kepada Presiden Soeharto di Cendana. (Istimewa)
Beritakepo.com. Kepiawaian membina relasi dengan banyak pihak seringkali lebih berperan penting dalam kesuksesan binis dan karir politik seseorang ketimbang kecerdasan seorang individu. Menyimak perjalanan hidupnya, Setya Novanto adalah salah satu contoh konkret yang mengamalkan prinsip tersebut. Dia tumbuh dari penjual madu dan beras menjadi pengusaha nasional dan Ketua DPR RI. Semua itu, menurut Novanto, tak lepas kerja keras dan keuletannya membangun relasi.

Seperti dilansir beritakepo.com dari detikcom, perpisahan orang tuanya, Sewondo Mangunratsongko dan Julia Mari Sulatri, membuat Setya Novanto harus hidup mandiri sejak dini. Kerja keras menjadi kunci untuk bisa menghidupi diri.

Dari Bandung dia hijrah ke Jakarta, dan masuk SMPN 73 Tebet, Jakarta Selatan, lalu berlanjut sampai masa SMA 9 (sekarang SMA 70 bulungan). Dari situ dia kembali hijrah ke Surabaya, dan kuliah di Universitas Katolik Widya Mandala di Surabaya sejak 1973. Agar terbebas dari biaya kos, meski sudah mahasiswa Setya Novanto rela mengerjakan urusan rumah tangga dan mengantarkan anak-anak si pemilik rumah ke sekolah.

"Saya menjadi sopir keluarga di tempat saya tinggal. Saya juga jadi pembantu, membersihkan rumah, dan lainnya," kata Novanto dalam seminar di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Sumatera Barat, Pariaman, 25 Maret 2017.

Di sela kuliah, dia juga pernah berjualan beras dan madu di Pasar Keputren. Setya Novanto mengaku tidak pernah minder dengan kondisi ekonominya kala itu. Kondisi ekonominya mulai membaik saat ia menjadi tukang cuci mobil di salah satu dealer mobil di Surabaya. Hingga suatu hari Setnov dipercaya menjadi salesman lalu menanjak menjadi kepala penjualan untuk Indonesia bagian timur di perusahaan tersebut.

"Darimanapun asal usul adik-adik mahasiswa semua, dari latar belakang keluarga yang mampu atau tidak mampu, di hadapan Tuhan, status sosial kita sama. Karena itu, jangan pernah kehilangan kepecayaan diri dan jangan pernah takut melangkah" tutur Setya Novanto memotivasi.

Saat hijrah kembali ke Jakarta pada 1979, dia tinggal di rumah temannya semasa sekolah di SMA 9, Hayono Isman. Sambil melanjutkan kuliah di Universitas Trisakti, keduanya berkongsi mendirikan PT Anindya Cipta Perdana, distributor semen dan bahan bangunan ke kawasan Nusa Tenggara Timur. Tapi usaha itu hanya bertahan dua tahun karena kalah bersaing dengan perusahaan lain.

Selain dengan Hayono Isman yang merupakan putra pendiri Kosgoro, Jenderal Mas Isman, dalam wawancara dengan majalah SWA pada 1999, Setya Novanto mengaku banyak belajar dari penguasaha Sudwikatmono.

Agar bisa berkenalan dan dikenal salah satu konglomerat yang juga masih kerabat Keluarga Cendana itu, Setya Novanto mengaku berhari-hari menunggunya di tempat parkir. Dia datang sebelum jam kantor, pukul 06.00 hingga kantor kembali tutup sekitar pukul 22.00. Berhari-hari dia melakukan hal itu agar Sudwikatmono mau meliriknya.

Di hari ke sekian, sang konglomerat luluh melihat keuletannya. Setya Novanto akhirnya diberi kesempatan untuk mengutarakan maksudnya. Dalam perjalanannya kemudian, dia dipercaya menggarap proyek bersama yakni pembangunan padang golf kelas internasional seluas 400 hektare di Batam dengan investasi sebesar US$ 100 juta. Proyek tersebut diresmikan Presiden Soeharto dan dihadiri sejumlah menteri terkait.

"Sudwikatmono adalah pembina usaha saya, Hayono Isman pembina dalam politik, dan (mantan KSAD Jenderal) Wismoyo Arismunandar yang memberi wawasan pengabdian pada bangsa dan negara," ungkap Setya Novanto kepada Swa.

Proyek di Batam dan kedekatannya dengan Sudwikatmono membuka akses Novanto memasuki keluarga Cendana. Dia kemudian dipercaya menulis buku Manajemen Soeharto yang merupakan kumpulan tulisan belasan menteri di cabinet Orde Baru.

Putri sulung Soeharto, Siti Hardijanti Rukmana (Mba Tutut) mempercayainya memimpin PT Citra Permatasakti Persada yang bergerak di bidang pembuatan surat izin mengemudi. Lalu, Elsye Sigit, istri Sigit Harjojudanto, menggandengnya dalam bisnis komputerisasi kartu tanda penduduk.
Setya Novanto bersama Wakil Presiden saat itu, Try Sutrisno
Setya Novanto bersama Wakil Presiden saat itu, Try Sutrisno. (Istimewa)
Tak cuma bisnis yang kian menggurita, karir politik Setya Novanto secara perlahan tapi pasti terus terkerek ke atas. Dia memang telah bergabung dengan Kosgoro sejak 1974 lewat sahabatnya, Hayono Isman. Tapi sosok Novanto baru terlihat eksis di lingkungan Golkar sejak dekat dengan keluarga Cendana. Pada 1999, Setya Novanto masuk DPR, terus merangkak hingga menjadi Ketua Fraksi dan Ketua DPR.

Dengan posisinya sebagai ketua DPR, pada 3 September 2015, dia bisa menemui Donald Trump. Wajah Setya Novanto dan Trump yang kemudian terpilih menjadi Presiden AS terekam di sejumlah foto yang ditayangkan media massa, seperti Reuters,CNN, dan Business Insider. "Setya Novanto, salah satu orang paling berpengaruh dan sosok yang besar," kata Trump seperti dikutip dari Business Insider, 4 September 2015.
Bisnis dan Karir Politik Novanto Meroket Berkat Keluarga Cendana Bisnis dan Karir Politik Novanto Meroket Berkat Keluarga Cendana Reviewed by Amborsius Ambarita on 11/22/2017 10:22:00 PM Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.