Dua Presiden Indonesia Paling Bernyali, Jokowi dan Soeharto

Jokowi dan Soeharto
Jokowi dan Soeharto. (Istimewa)
Beritakepo.com. Serangkaian teror bom yang mengguncang Kabul, ibu kota Afghanistan sejak akhir pekan hingga Senin dini hari tadi tak menyurutkan tekad Presiden Joko Widodo untuk melakukan kunjungan kenegaraan di negeri tersebut. Didampingi Ibu Negara Iriana, Presiden dan rombongan tiba di Kabul sekitar pukul 11.40 waktu setempat atau 14.10 WIB.

Kunjungan Kenegaraan Presiden Jokowi ke Afghanistan ini merupakan yang kedua dilakukan Presiden Republik Indonesia setelah Presiden Sukarno pada 1961.

Sejumlah politisi memuji dan mengapresiasi keputusan Presiden Jokowi dan menyebutnya sebagai langkah bernyali. "Kita apresiasi keberanian dari Presiden yang mengunjungi daerah yang betul-betul saat ini lagi konflik," kata Sekretaris F-PKB Cucun Ahmad Syamsurijal kepada wartawan, Senin (29/1/2018).

Berdasarkan informasi resmi Istana seperti dilansir beritakepo.com dari detikcom, selama di Kabul, Jokowi antara lain akan bertemu dengan Presiden Ashraf Ghani di Istana Presiden Arg. Selain pertemuan empat mata (tete a tete), juga akan digelar pertemuan bilateral bersama-sama masing-masing delegasi dan pernyataan pers bersama.

Selain itu, Jokowi juga akan bertemu dengan High Peace Council (HCP) Afhganistan di Istana Haram Sarai (Wisma Negara), mengikuti santap siang bersama di Istana Presiden Arg dan mengunjungi Istana Darul Aman.

Keberanian Jokowi untuk mengunjungi negara yang belum sepenuhnya bebas dari konflik tersebut mengingatkan kepada penguasa Orde Baru, Presiden Soeharto. Pada pertengahan Maret 1995, selaku Ketua Gerakan Non Blok dia berkeras untuk menemui Presiden Bosnia Alija Izetbegovic sebagai bentuk dukungan moral.

Padahal beberapa sat sebelumnya, ada kabar kabar pesawat yang ditumpangi Utusan Khusus PBB Yasushi Akashi ditembaki saat terbang ke Bosnia. Tapi kabar itu tak menciutkan nyali Presiden Soeharto.

Dengan menggunakan pesawat sewaan dari Rusia jewnis JAK-40 berkapasitas 24 kursi, Presiden Soeharto terbang ke Bosnia-Herzegovina. Sesuai prosedur keselamatan internasional di medan perang, semua penumpang mengenakan helm baja dan rompi yang bisa menahan proyektil M-16. Tapi Soeharto cuma berkopiah dan menolak mengenakan rompi seberat 12 kilogram. "Eh, Sjafrie, itu rompi kamu cangking (jinjing) saja. Helmnya nanti masukkan ke Taman Mini (Museum Purna Bhakti) saja," ujar Soeharto seperti diungkapkan Letjen Sjafrie Sjamsoeddin dalam buku Pak Harto The Untold Stories. Kala itu Sjafrie yang berpangkat kolonel turut dalam rombongan yang mengawal Soeharto.

Salah satu alasan kenapa Soeharto bertindak nekat, kata Sjafrie, karena sebagai ketua GNB Indonesia tak punya cukup uang untuk bisa membantu Bosnia. "Kita ini pemimpin Negara Non Blok tetapi tidak punya uang. Ada negara anggota kita susah, kita tidak bisa membantu dengan uang ya kita datang saja. Yang penting orang yang kita datangi merasa senang, morilnya naik dan mereka menjadi tambah semangat," papar Soeharto seperti diceritakan Sjafri dalam buku tersebut.

Kalau alasan Jokowi? "Kita tidak boleh membiarkan negara kita, dunia, berada dalam situasi konflik. Penghormatan kita kepada kemanusiaan, kepada humanity, seharusnya yang menjadi pemandu kita dalam berbangsa dan bernegara," kata Jokowi lewat akun Facebook resminya seperti dilihat detikcom, Senin (29/1/2018).
Dua Presiden Indonesia Paling Bernyali, Jokowi dan Soeharto Dua Presiden Indonesia Paling Bernyali, Jokowi dan Soeharto Reviewed by Amborsius Ambarita on 1/29/2018 05:17:00 AM Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.