Lebih Baik Mana, Menteri Susi Tenggelamkan atau Lelang Kapal Maling Ikan?

loading...
Kapal maling ikan yang ditenggelamkan
Kapal maling ikan yang ditenggelamkan. (Detikcom)
Beritakepo.com. Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Panjaitan hingga pengusaha menyarankan kapal asing pencuri ikan di perairan Indonesia dilelang ketimbang ditenggelamkan. Mereka beralasan lebih baik itu dimanfaatkan oleh nelayan agar tangkapan bertambah.

Jumlah kapal yang ditenggelamkan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti tercatat sebanyak 350 kapal. Jumlah tersebut berasal dari berbagai negara dan bermacam ukuran.

Sedangkan Susi punya pemikiran lain. Penenggelaman kapal itu sebagai efek jera bagi para pelaku maling ikan di laut Indonesia, terutama kapal-kapal asing. Menurut Susi, kebijakan tersebut bisa meningkatkan hasil tangkapan nelayan dan jumlah ikan di laut Indonesia terjaga.

Dilansir beritakepo.com dari detikFinance, Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Kelautan dan Perikanan, Yugi Prayanto menghitung cukup besar ikan yang bisa ditangkap andai 350 kapal tersebut dimanfaatkan oleh nelayan.

Dia berasumsi bahwa kapal ukuran terkecil yang ditenggelamkan Susi adalah 30 GT. Kapal berukuran 30 GT mampu mengangkut ikan sebanyak 15 ton hingga 20 ton. Kemudian diasumsikan satu kapal bisa menangkap 20 ton tuna. Harga tuna saat ini menurutnya berkisar Rp 80.000 per kg. Adapun, 20 ton tuna sama dengan 20.000 kg. Kemudian jika dikalikan Rp 80.000 per kg hasilnya Rp 1,6 miliar.

Merespons hal ini, mantan Menko Kemaritiman, Rizal Ramli, angkat bicara. Rizal mempertanyakan motif di balik perintah tersebut. Dia bahkan curiga tujuannya hanya ingin melindungi kepentingan dari pengusaha ikan asing yang nakal.

"Saya mau tanya motifnya ini benar atau hanya mau melindungi kapal asing yang besar pencuri ikan? Karena banyak dulu pejabat, elit di Indonesia yang jadi frontman dari pencurian ikan oleh kapal-kapal asing," ujar Rizal usai acara Diskusi Publik Prospek Ekonomi dan Politik 2018 di Jakarta, Rabu (10/1/2018).

Menurutnya kebijakan penenggelaman kapal asing yang menjadi maling ikan di Indonesia sudah efektif untuk memberantas illegal fishing.

"Dulu negara seperti Thailand ekspor ikannya bisa nomor 1, tapi mohon maaf ikannya dari kita. Nelayan di Sibolga tangkap biasanya butuh waktu 7 jam di laut, sekarang 2 jam saja sudah dapat ikan," tambahnya.

Menurutnya hal itu tidak lepas dari jasa Susi yang berani menerapkan kebijakan penenggelaman kapal asing pencuri ikan. Sebab hal itu mampu memberikan efek jera.

"Ibu Susi tuh berjasa soal itu. Masa mau dibalikin lagi ke sistem yang lama," tandasnya.

Sementara, Pengamat Maritim Siswanto mengungkapkan bahwa sebenarnya lelang kapal asing tidak bisa diterapkan. Hal itu mengacu pada pada The International Convention on Arrest of Ships 1999 (Konvensi Internasional tentang Penahanan Kapal 1999).

"Jadi kapal berbendera China, dia hukum China yang bisa diterapkan di situ. Nah tapi kan kapal ini bermasalah di perairan kita, karena itu kalau pun dia diproses sebaiknya hukumannya itu denda bukan ditenggelamkan, bukan juga disita untuk dibagikan," katanya, Rabu (10/1/2018).

Dia memastikan bahwa praktik di negara lain pun, kapal asing tidak bisa dilelang maupun diberikan untuk kepentingan negara.

"Enggak bisa (dilelang) karena bukan berbendera kita. Itu begitu tradisi lazimnya kapal-kapal di dunia internasional itu diberlakukan kalau dia bersengketa hukum," lanjutnya.
Lebih Baik Mana, Menteri Susi Tenggelamkan atau Lelang Kapal Maling Ikan? Lebih Baik Mana, Menteri Susi Tenggelamkan atau Lelang Kapal Maling Ikan? Reviewed by Amborsius Ambarita on 1/10/2018 06:51:00 AM Rating: 5

Tidak ada komentar:

loading...
Diberdayakan oleh Blogger.